Telanjur Mengetuk

Pernahkah mengetuk pintu hati seseorang, lalu setelah terbuka kamu ragu apakah ruang itu tempat yang nyaman untuk tinggal?

Kamu bingung harus melakukan apa, karena segalanya terasa sudah ‘telanjur’. Kamu membayangkan akhir yang mengerikan bila terus melanjutkan. Dan merasa setiap hari baru yang kamu jalani hanyalah perpanjangan waktu penyiksaan. Akhirnya, satu-satunya hal yang kamu lakukan adalah berlari dan sembunyi.

Kamu tahu pelarian itu salah. Nuranimu pun tak henti-hentinya berbisik, “Kamu sungguh tidak bertanggung jawab!” Namun, kamu mengabaikan bisikan itu dan terus berlari …

Padahal, bertanggung jawab atas apa yang telah dimulai tak selalu berarti melanjutkannya hingga akhir.

Kamu bisa memilih untuk menyelesaikannya, tentu saja, jika memang yakin dan punya cukup tenaga. Jika tidak, bukanlah lebih baik berhenti dan menyatakannya secara tegas?

Kedua pilihan itu sama-sama punya risiko, tetapi setidaknya ada kejelasan di sana.

Kadang-kadang, kita tergoda oleh pilihan yang tampak lebih mudah: meninggalkannya begitu saja. Kita pura-pura bodoh dan mengira apa-apa yang telah kita mulai akan menemukan penyelesaiannya sendiri. Atau, kita berharap waktu akan membantu melupakan, sehingga kelak bisa menjalani masa depan dengan lebih tenang.

Sungguh, itu adalah kekeliruan. Persoalan yang tidak selesai adalah bola salju sekaligus bom waktu. Ia akan terus bergelinding dan membesar, sambil menanti waktu yang tepat untuk meledak dan menghancurkan hidup kita.

Selain itu, bukankah menggantungkan sesuatu yang telah kita mulai tanpa kejelasan adalah sesuatu yang sangat sangat tidak bertanggung jawab?

Karya-karya Nurun Ala yang sudah terbit tersedia di shopee.co.id/azharologia. Selamat mengoleksi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *