Penjara Kata-kata

Aku tidak akan bisa melupakannya. Kenangan dengannya terlalu indah. Dia hadir saat aku benar-benar terluka, dan kini ia pergi begitu saja saat aku merasa tak bisa hidup tanpanya.

Aku tidak akan bisa membelinya. Barang itu terlalu mahal buatku. Aku hanya akan mencukupkan diri dengan benda-benda yang terjangkau olehku, meski berkualitas rendah. Mau bagaimana lagi? 

Aku tidak akan bisa berada di posisi itu. Aku cukup tahu diri bahwa kemampuanku terbatas. Lagipula, untuk sampai ke sana, aku harus melewati banyak rintangan sambil memikul beban yang tak ringan. 

Aku tidak akan bisa membuatnya bahagia. Kami selalu saja berselisih paham dan berdebat. Kami bahkan mudah bertengkar untuk hal-hal yang sepele. Mungkin, kami memang tidak ditakdirkan bersama.

Aku tidak akan bisa … apa lagi? 

Begitu sering kita mengucapkan kalimat yang diawali dengan frase ‘Aku tidak akan bisa’, seolah kita yang paling tahu bagaimana semesta bekerja, bisa membaca masa depan, sekaligus tak punya daya untuk lebih sungguh-sungguh dalam mengupayakan sesuatu. 

Padahal, manusia dianugerahi perangkat untuk berpikir, berjuang, dan berkembang. 

Jadi, jangan penjarakan pikiranmu. Jangan batasi kemampuanmu. Kamu berhak berkembang. Kamu berhak mencoba. 

Alih-alih mengatakan, “Aku tidak akan bisa ….”, lebih baik kita katakan, “Bagaimana caranya agar aku bisa …

Bagaimana caranya agar aku bisa melupakannya? 

Bagaimana caranya agar aku bisa membelinya, meski itu begitu mahal?

Bagaimana caranya agar aku bisa berada di posisi itu, meski itu tidak mudah?

Bagaimana caranya agar aku bisa membuatnya bahagia?

Bagaimana caranya agar aku bisa …

Mengeluh dan berjuang sama-sama menghabiskan energi. Ada baiknya, kita memilih aktivitas yang membawa perbaikan pada diri. 

© nurun ala

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *