person holding fountain pen

Menikmati Ketakberdayaan

Kita terpisah jauh, dan hanya bisa diam menikmati ketakberdayaan. 

Sambil dengan kebodohan masing-masing, kita menanti sayap yang tak jua tumbuh. Lalu kita akan berkirim surat, tanpa pernah tahu nasibnya—sampai, nyasar, atau hilang. Kita tak pernah peduli. 

Karena sebenarnya kita hanya ingin menulis surat untuk diri kita sendiri. Kita hanya ingin merasakan gelombang kerinduan mahadahsyat yang kita pancarkan sendiri. Itu sudah cukup. Atau bahkan, bagi kita itu lebih dari cukup.

Separuh diriku pergi dan aku merintih di sini. Adakah di sana kau mendengarnya?

Tidak?

Tak apa.

Kadang, kita tidak butuh jawaban. Hanya ingin bertanya.

Kadang kita merintih, bukan karena ingin diobati. Hanya ingin berteriak kesakitan—sekuat-kuatnya.

Ja(t)uh (2013)

One thought on “Menikmati Ketakberdayaan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *