Membanding-bandingkan

Gore Vidal, seorang penulis Amerika, pernah berkata di dalam suatu wawancara, “Setiap kali seorang teman sukses, sebagian kecil diriku mati.”

Kita, barangkali adalah Gore Vidal yang memilih untuk tidak mengekspresikan perasaan kita. Perasaan yang halus dan jarang diakui, tetapi ada. Ia muncul malu-malu saat seorang teman mengalami peningkatan taraf hidup, membeli barang yang sudah lama kita impikan, atau berbahagia atas sebuah pencapaian.

Perasaan—yang tidak kita akui—itu, seringkali lahir dari rahim pembandingan. Mengapa korbannya lebih sering teman, atau orang di lingkaran kita sendiri? Sebab kita hanya membanding-bandingkan diri dengan mereka yang mirip dengan kita dalam hal usia, lingkungan, karier, dan pendidikan.

Kita masa bodoh dengan pencapaian orang-orang di luar jangkauan. Atau, kita peduli, tetapi dengan terampil menghibur diri: “Wajarlah, dia kan …”, “Enggak kaget sih, orang dia …”, dan sebagainya. Terhadap mereka, tak ada upaya membanding-bandingkan, tak ada ‘sebagian kecil diri yang mati.’

Dan bukankah tanpa pembandingan, hidup jauh lebih tenang?

Maka, sesegera mungkin, kita perlu berhenti membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Apalagi jika menggunakan kaca mata media sosial, yang isinya telah dipilih secara teliti untuk menciptakan kesan tertentu yang terkadang palsu.

Kita hanya berhak dibandingkan dengan diri kita yang kemarin. Kita hanya boleh mengejar, atau mengalahkan kita yang minggu lalu.

Jangan, jangan pernah hidup dengan standar materiel orang lain. Itu melelahkan. Fana. Dan cenderung penuh pura-pura.

Jadi, kalau orang lain berbahagia dengan mengoleksi barang mewah, berbanggalah karena kita sudah bisa berbahagia dengan sepiring indomie hangat yang direbus tidak terlalu lama, atau senyum tulus orang yang kita cintai.

Karya-karya Nurun Ala yang sudah terbit tersedia di shopee.co.id/azharologia. Selamat mengoleksi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *