Memang Lebih Baik

Ada bagian dari diri kita yang selalu ingin dianggap istimewa. Ingin dilihat, didengar, dan dihargai.

Jika sedang berkumpul dengan beberapa teman, lalu ada seseorang yang menceritakan pengalaman jalan-jalannya ke sebuah tempat yang indah, diam-diam kita mengingat-ingat pengalaman pribadi kita yang tak kalah menyenangkan dan bersiap-siap menceritakannya. Apabila ada yang mengatakan bahwa ia mengenal Pejabat A, Selebriti B, atau Penyanyi C, kita akan langsung mencari daftar nama dalam ingatan yang juga bisa dibanggakan.

Bahkan, seandainya ada seorang teman yang bilang bahwa di satu waktu ia pernah mengalami sebuah kecelakaan parah, kita berusaha mengingat pengalaman kecelakaan yang jauh lebih mengenaskan. Jika tidak ada, kita akan menceritakan pengalaman kecelakaan saudara kita, atau salah seorang tetangga kita, atau tetap pengalaman sendiri, tetapi ditambahi aneka bumbu di sana-sini.

Kita tak pernah mau kalah.

Kita dikuasai oleh ego, dan sering kali itu membuat kita menjadi bego.

Memangnya, apa untungnya melakukan itu semua? Jika ada seorang teman yang membangga-banggakan pengalaman jalan-jalannya, kenalannya yang selebriti atau pejabat, juga kecelakaan parah yang pernah menimpanya, apakah lantas kita dirugikan? Rasanya, tidak.

Jadi, biarkan saja mereka bercerita dan merasa bangga. Biarkan. Biarkan. Sambil bisikkan kalimat ini pada diri, “Ya, dia memang lebih baik.” 

Tidakkah itu jauh lebih elegan dan melegakan?

Karya-karya Nurun Ala yang sudah terbit tersedia di shopee.co.id/azharologia. Selamat mengoleksi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *