Jeda

“Untung saja dulu aku bla bla bla. Kalau tidak, bisa-bisa sekarang aku bla bla bla.”

Seberapa sering kalimat semacam itu terlontar dari mulut, atau sekadar terlintas di dalam pikiran kita? Kita mensyukuri sebuah kejadian di masa lalu. Padahal, dulu pada saat kejadian itu berlangsung, kita menangis sejadi-jadinya.

Kita marah.

Kita protes.

Kita kecewa.

Kita mencari kambing hitam untuk disalah-salahkan. Entah itu orang tua, teman, seseorang yang tak kita kenal, takdir, Tuhan, atau siapa saja. Rasanya, kejadian itu bukan hanya melukai, tetapi akan bikin masa depan kita makin sulit.

Waktu terus berjalan. Bumi masih berputar. Kita membaca banyak buku, bertemu banyak orang, mendengar banyak cerita, merasakan aneka pengalaman baru.

Luka yang tercipta oleh kejadian itu sudah sembuh, tetapi menyisakan bekas. Anehnya, melihat bekas itu, kita tak lagi merasa marah atau kecewa. Bahkan, alih-alih protes pada Tuhan dan menyalah-nyalahkan orang lain—sebagaimana yang kita lakukan dulu—kita justru berterima kasih. Bahwa kejadian itu, telah jadi semacam teguran, peringatan, pemicu, penyadar, atau apa saja yang membuat kita jadi manusia yang jauh lebih baik di hari ini.

Sebagian ilmu yang datang dari pengalaman, seringkali baru tampak setelah kita mengambil jarak dari pengalaman itu. Setelah hari demi hari berlalu.

Pemahaman butuh jeda.

Karya-karya Nurun Ala yang sudah terbit tersedia di shopee.co.id/azharologia. Selamat mengoleksi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *