silhouette photo of man with backpack standing in seashore during golden hour

Jauh (3)

Tiada hal yang lebih manjur untuk mengobati heningnya perpisahan selain merindu dan bersabar. Tersebab kita bukan manusia mahahebat yang bisa hidup sendiri. Tersebab perpisahan selalu menyisakan rasa yang asing dalam batin kita: rasa yang menggugu dan tak biasa. 

Meski keterpisahan tidak melulu soal air mata. 

Meski keterpisahan tidak melulu soal kenelangsaan. 

Meski kita sepenuhnya menyadari bahwa pada hakikatnya keterpisahan hanyalah tipu daya waktu.

Kita akan mengenang saat-saat itu. 

Waktu kita—entah aku atau dirimu—mencari alasan-alasan kecil untuk sekadar mencipta kesempatan berjumpa. Bukan untuk bertukar tatap. Apalagi saling menyapa lalu tersipu. Karena bagiku, mengetahui bahwa kau baik-baik saja sudah lebih dari cukup. Apalagi mengetahui bahwa kita dekat, rasanya seperti menyicip secuil surga. Aku mulai berlebihan.

Kita akan mengenang saat-saat itu. 

Ketika aksara mampu—meski malu-malu—berbicara lebih jujur dari apa pun. Dengan canda-canda ringan yang kadang jadi absurd karena kebablasan. Dengan bumbu metafora yang barangkali kita juga tak mengerti. Tapi bukankah bagi kita pengertian itu sudah ada, bahkan sebelum terucap kata?

Kenanglah saat-saat itu. 

Tidakkah kau merasa kita begitu dimanja takdir? Berjumpa. Tertawa. Bersedih. Lalu tanpa sadar saling merindu.

Dan kini …

Kita juga mesti menerima sebuah kenyataan yang telah tersaji di hadapan: keterpisahan itu telah jadi niscaya.

Mempertanyakan mengapa harus ada perjumpaan bila berujung perpisahan adalah sebuah kepengecutan. Dan cinta, juga kebahagiaan yang menyertainya, bukan milik para pengecut. Ia adalah hadiah untuk orang-orang yang berani. Berani berjuang. Berani berdoa. Dan tentu berani menanti tanpa harus merasa tersakiti. Karena kimia jiwa ini butuh waktu untuk bisa bereaksi.

Surga itu ada di bawah naungan pedang”, kata seorang Sahabat Nabi.

Tiada kebahagiaan tanpa keberanian. Dan keberanian cuma dipunya sebagian orang.

Aku, dirimu, termasuk sebagian yang mana?

Demi detik-detik kehidupan yang habis untuk memikirkanmu. Bila kita merasa takdir tak lagi memanjakan kita. Bila keterpisahan ini bukan lagi tipu daya. Buatku, rasa itu akan tetap ada. Membersamai tiap-tiap cita yang coba dicipta tanpa harus lupa: doa punya daya untuk menganulir takdir.

Dirimu. 

Semoga. 

Selalu. 

Detik ini dan selamanya, jadi bintang yang menggantung di langit rindu.

Ja(t)uh (2013)

2 thoughts on “Jauh (3)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *