blooming tulips placed near window during rain

Hujan atau Cinta

Barangkali memang sudah semestinya kita berterima kasih kepada hujan. Rintik-rintik kenangan yang telah menahan kita untuk tetap di sini, bertahan untuk mendengarkan cerita satu sama lain. Kamu bercerita, aku bercerita—dan entah sudah berapa dusta yang aku cipta. 

Hujan menggenang lubang-lubang jalan. Burung-burung berteduh.

Hatiku mengaduh.

Bagaimana rasanya terjatuh, terluka, tapi harus terus berpura-pura?

Bagaimana rasanya, mendengar cerita dari orang yang kita damba tapi bukan tentang kita? 

Aku tak pernah benar-benar tahu kata apa yang paling tepat untuk menamai perasaan ini, apakah cinta atau apa. Barangkali karena aku terlalu tak siap merawat kesimpulan yang prematur. 

Atau barangkali kita memang tak perlu tahu segalanya, seperti kita mengenal sembilu tanpa perlu tahu rupa bambu. Seperti kita yang selalu mengagumi kupu-kupu tanpa pernah terlalu peduli bagaimana bentuk ulat. 

Tapi …

Inikah yang tengah kau lakukan,

Meninggalkanku dalam kebingungan?

Membiarkanku terus berdiri di atas jutaan pertanyaan?

Memenjarakanku dalam kenangan dan rasa takut kehilangan?

Hujan berhenti. Kita masih di sini—rupanya bukan karena hujan kita bertahan. Tapi, aku terlalu takut untuk menyebutnya cinta.

Ja(t)uh (2013)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *