man in white shirt standing near window

Di Batas Sunyi

Aku sedari dulu selalu merasa cukup memandangmu dari sudut ini. Dari balik dinding hatiku yang kadang runtuh diterpa sapa, atau sekadar senyum. Menghayati sesosok bidadari dengan cara yang paling sulit dimengerti.

Kala kau menatap, itulah kala ku harus terpejam—aku tak sanggup. Kala kau bersuara adalah kala ku harus menutup telinga, atau menjauh, atau bersembunyi di balik dinding paling kedap suara yang bisa kutemui. 

Aku ingin bertengger di batas kesunyian. Menikmati kepecundangan ini sendirian. Biar tak ada yang tahu. 

Jiwaku berhamburan tak teratur. Aku makin melantur. Hanya ingin tidur, dan bermimpi tentang apa saja yang tak bisa kulakukan dan kukatakan di alam nyata. Seperti, menemuimu dan meluapkan perasaan yang telah lama terbendung ini. 

Adakah kamu di sana merasakannya? Getaran-getaran yang berbicara; Aku ingin ada kamu di sini. Bercerita, bercanda, atau sekadar saling menatap.

Aku selalu memandangmu teduh, tanpa tahu kau pandang apa aku. Tanpa tahu hitam atau putihkah aku di matamu. 

Dan kini semua berujung pada perjanjian suci antara aku dan huruf-huruf—agar tetap tiada yang tahu.

Ja(t)uh (2013)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *