Di Balik Luka

Saat jari kita teriris pisau, kita menjerit kaget. 

Buru-buru kita mencari kain, kapas, atau apa saja untuk menahan darah yang mengalir dari pembuluh darah yang terpotong. Rasanya, tentu saja perih. 

Namun, bersama rasa perih itu, kita seperti diingatkan kembali bahwa di dalam tubuh kita, ada darah. Sesuatu yang barangkali tak kita rasa, tak sering kita lihat, tetapi diam-diam menghidupi.

Saat terbaring sakit, tubuh kita lemas tak berdaya. 

Ingin melakukan ini itu tak bisa. Untuk sekadar berdiri saja tak bertenaga. Bahkan, makanan mahal tak lagi terasa lezatnya. Maka kita bukan cuma menderita, tetapi juga bosan setengah mati. 

Namun, dalam derita dan kebosanan itu, kita disadarkan kembali betapa mahal dan menyenangkannya nikmat sehat. Hal yang sering luput disyukuri.

Ada kejadian-kejadian yang sekilas tampak merugikan, padahal hadirnya membangkitkan kesadaran.

Alih-alih protes dan marah, barangkali jauh lebih produktif jika kita bisa berefleksi dan mengambil hikmah atasnya. Seperti pernah dinasihatkan Ibnu Taimiyah, “Musibah yang mendekatkan kita kepada Allah, lebih baik daripada nikmat yang membuat kita berpaling dari mengingat Allah.”

Karya-karya Nurun Ala yang sudah terbit tersedia di shopee.co.id/azharologia. Selamat mengoleksi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *