Festival Hujan

Aku melihat derita kesedihan di bola matamu.

Hujan yang tak kunjung reda. Mawar yang layu menanti gugur.

Aku ingin bertanya, Rania. Apa arti kebahagiaan bagimu? Adakah kehadiran seorang kekasih, sungguh bisa jadi batu pijakan untuk meraihnya? Ataukah itu hanya balas dendam kehilangan yang menderamu di masa lalu?

Dunia ini penuh tipu daya, Rania. Kita perlu cermat memilah beban: mana yang harus dipikul, mana yang selayaknya dilepaskan. Abaikan indah fatamorgana, temukan oase yang sesungguhnya. 

Dan berhentilah, Rania. Berhenti meletakkan garis takdirmu di telapak tangan orang lain.

***

Setelah mengalami patah hati hebat, Rania bertemu seorang lelaki misterius berusia sepuluh tahun lebih tua yang Continue reading Festival Hujan

Kehilangan

Orang yang saat ini selalu ada di sisi, bisa kapan saja beranjak pergi. 

Dia yang detik ini menggenggam jemari, bisa kapan saja menghilang dan tak pernah kembali. 

Mereka yang selama ini memberi semangat di setiap pagi, bisa kapan saja lupa atau terlalu sibuk untuk melakukannya lagi.

Kebersamaan di dunia selalu fana. 

Sementara kehilangan adalah niscaya. 

Ia datang dengan atau tanpa tanda-tanda … 

Perlahan atau tiba-tiba … 

Kehilangan adalah hal yang tak pernah ingin kita percaya, namun terasa terlalu nyata: perihnya, sesaknya, air mata yang menyertainya. 

Kita masih berusaha percaya, “Aku baik-baik saja.” Sebagaimana kalimat yang Continue reading Kehilangan

Akan Tetap Pergi

Suatu waktu, ada seseorang yang tiba-tiba hadir di hidupmu. Bagimu, ia sosok yang tepat. Tidak sempurna, tentu saja, tetapi sebagian besar yang ada di dirinya sudah sesuai kriteria.

Tidak salah lagi. Kali ini, kamu cukup yakin keluarga dan lingkunganmu akan menerimanya dengan tangan terbuka. Akan ada satu dua yang saling berbisik tentang ketidaksempurnaannya, tentu saja, tetapi tidak apa-apa. Itu tandanya ia masih manusia.

Ini pasti konspirasi semesta, batinmu. Tiba-tiba harimu jadi penuh bunga.

Lalu, tanpa menunggu lama, kamu diam-diam mendekatinya. Mencari tahu apa yang disuka dan tak disukanya. Menciptakan pertemuan-pertemuan kecil yang seolah tak sengaja. Melakukan aneka tindakan bodoh untuk mencuri perhatiannya. Merancang strategi tahap demi tahap untuk memenangkan hatinya.

Sayangnya, ia tampak acuh tak acuh pada setiap usahamu. Setelah semua yang kamu lakukan, baginya dirimu hanyalah seorang teman, sebagaimana orang-orang lain di sekitarnya.

Kamu marah, entah pada siapa. Tetapi bisikan itu terus terngiang di telingamu: amour vincit omnia … cinta menaklukkan segalanya. Belum lagi imaji tentang betapa indahnya dunia bila kamu bisa selalu bersama dengannya. Maka, meski masih sibuk menyatukan potongan-potongan hati yang patah, kamu tak berhenti berusaha.

Hatinya pasti kan luluh bersama waktu, ucapmu meyakinkan diri.

Sayangnya lagi, ia benar-benar ingin pergi. Kamu sedih, tentu saja, tetapi mau bagaimana lagi?

Memang begitu cara dunia bekerja. Tak semua yang kita damba jadi nyata. Tak semua cita bertemu dengan izin Sang Pencipta.

Sekuat apa pun kamu berusaha menahannya, yakinlah: yang ingin pergi akan tetap pergi.

Sehebat apa pun upayamu untuk memenangkan hatinya, Continue reading Akan Tetap Pergi

Relakan Saja

Jika seseorang yang kamu inginkan berusaha menjauhimu, mungkin baginya kamu memang payah. Ia punya standar yang gagal kamu penuhi, karena itu ia pergi. Relakan saja. Bila perlu, beri ia sayap agar dapat terbang sejauh yang ia mau.

Setidaknya, dengan begitu, kamu punya ruang untuk introspeksi diri. Merenung tentang hal-hal yang harus kamu perbaiki.

Setidaknya, dengan begitu, kamu punya keleluasaan untuk menemukan seseorang yang lain. Menanggalkan kaca mata kuda yang selama ini kamu kenakan dan mulai mencari dengan sudut pandang lebih luas. 

Pasti ada seseorang di sana. Yang kamu inginkan dan menginginkanmu. Yang kamu hargai dan menghargaimu. Yang kamu terima kelemahannya dan bersedia memaafkan ketidaksempurnaanmu.

Pasti ada seseorang di sana, yang hatimu bergetar kala menatapnya dan ia tersipu saat kamu memujinya. Ia yang tak Continue reading Relakan Saja

Jangan Dulu Patah

Jangan dulu patah. Masih ada waktu. Masih tersedia ruang untuk bergerak dan mencoba. Masih ada kesempatan untuk melakukannya sekali lagi, atau mungkin beberapa kali.

Jangan dulu redup. Nyalakan lagi api harapan di bola matamu. Panggil kembali ingatan-ingatan tentang kesungguhanmu yang dulu. Utuhkan kembali niat mulia yang sempat mengisi penuh hati dan kepalamu, mewarnai siang dan malammu.

Jangan, jangan dulu menyerah. Setidaknya, jangan sekarang. Jangan di usia semuda ini. Nalarmu masih tajam. Jiwamu masih kuat. Tenagamu masih berlimpah. Memang belum Continue reading Jangan Dulu Patah

Perihal Jodoh

Aku tak pernah berhenti meyakini bahwa jodoh adalah orang yang kita pilih untuk kita cintai.

Ia bisa saja dipilihkan orang lain. Tetapi jika kamu setuju, itu artinya kamu juga memilihnya.

Ia jelas tak boleh sempurna. Agar kamu menemukan ruang untuk berarti bagi hidupnya.

Ia mungkin menyembunyikan luka. Dan itu berarti ia butuh tanganmu untuk membalutnya.

Bersamanya, kamu akan merayakan apa saja: sedih dan bahagia … tawa dan air mata … lega dan kecewa.

Ia bisa jadi orang yang saat ini belum kamu kenal sama sekali, atau boleh jadi seseorang yang sudah sering kamu temui.

Tetapi, percayalah …

Meski telah begitu sering dibayangkan,

Continue reading Perihal Jodoh

Saat Hidup Bersama

Ketika hidup bersama dengan seseorang, kamu harus mengapresiasi kelebihannya sekaligus menerima setiap kekurangannya. Tetapi, tak cukup sampai di sana. Kamu dan dirinya harus berkomitmen untuk terus bertumbuh, agar hidup tak jua menyentuh titik jenuh. 

Genggam tangannya, berjalanlah bersama dan nikmati aneka petualangan baru yang menanti. Tataplah masa depan dengan mata yang menyala dan tetaplah berbaik sangka atas setiap kepastian-Nya.

Ketika hidup bersama dengan seseorang, kamu harus ingat bahwa menyampaikan kebaikan di waktu yang tidak tepat itu tidak baik. Ada waktu ketika yang dibutuhkan teman hidupmu hanyalah telinga untuk mendengar dan bahu untuk bersandar. Ada waktu ketika yang dibutuhkan teman hidupmu hanyalah ruang untuk merenung dan menangis sendiri. 

Hidup ini penuh dengan ketidaksempurnaan, sebab itu butuh banyak pemakluman.

Ketika hidup bersama dengan seseorang, kamu bukan cuma Continue reading Saat Hidup Bersama

Lawan Kata Cinta

Apa lawan kata cinta?

Benci?

Sepertinya bukan.

Kita bisa mencintai seseorang, sambil membenci sebagian dirinya.

Kita mencintai pasangan kita, tetapi benci saat melihatnya bermalas-malasan. Kita mencintai ayah kita, tetapi tentu saja benci jika ia berjudi dan mabuk-mabukan.

Bahkan bisa dibilang, benci adalah tangan kanan cinta. Tugasnya, mengingatkan cinta akan batas-batas logika—menjaganya agar tak buta.

Lalu, apa lawan kata dari cinta?

Barangkali egoisme.

Sebab inti dari cinta adalah memberi.

Sementara egoisme membuat kita cuma berpikir tentang diri sendiri …

Tentang apa yang bisa kita terima …

Tentang untung-rugi pribadi …

Orang-orang yang egois sesekali memikirkan orang lain, jika Continue reading Lawan Kata Cinta

Curiga Kepada Takdir

Saat Allah menakdirkan hati kita terluka oleh seseorang, kita perlu curiga bahwa Allah juga sudah menakdirkan seseorang yang lain untuk membantu kita sembuh. 

Manakala ia datang, sambutlah dengan gembira. Namun, ketika ia mendekat dan menawarkan diri untuk membalut lukamu, katakan, “Aku akan menyembuhkannya sendiri, dan ini butuh waktu. Setelah aku pulih, aku siap dengan kehidupan baru denganmu.”

Ia sudah berbesar hati dengan bersedia mendatangi kita yang Continue reading Curiga Kepada Takdir

Pekerjaan Mencintai

Tak perlu berlebihan dalam mencari perhatian. Orang-orang yang suka padamu akan memerhatikanmu meski kamu hanya diam membatu. Satu gerakan darimu akan membuat mereka waspada, lirik matamu bikin mereka semakin jatuh cinta.

Tak perlu berteriak kencang-kencang. Orang-orang yang menyayangimu akan mendengar suaramu meski kamu sekadar berbisik. Telinga mereka selalu terbuka untuk kata-katamu yang jujur dan tulus.

Dan tak perlu menggenggam terlalu erat. Orang-orang yang mencintaimu tak ‘kan melangkah pergi meski kamu membebaskan mereka. Tak kan terbang meninggalkanmu meski kamu memberi mereka sayap. Jika kamu cukup berarti, kamu adalah napas bagi kehidupan mereka.

Tetapi, itu semua hanya akan terjadi jika kamu telah melakukan pekerjaan mencintai dengan sebaik-baiknya. Dan Continue reading Pekerjaan Mencintai

Fokus Berproses

Aku pernah berada di situasi ini: beberapa orang di sekeliling tampak sedang sibuk menebang pohon, sementara aku masih asyik mengasah gergaji.

Sebagian dari mereka bahkan sudah mulai mengolah pohon masing-masing menjadi bangunan rumah, aneka furnitur, atau sekadar kayu bakar. Mereka telah berbuat sesuatu, mencipta sesuatu, menjelajahi banyak tempat baru. 

Sementara aku, rasa-rasanya masih saja di sini dengan langkah terpaku.

Segera. Aku akan segera mengejar mereka. 

Batinku, yang merasa diburu waktu.

Sampai suatu hari, beberapa orang yang biasanya tak terlalu kuperhatikan lewat di hadapanku. Mereka bilang, mereka sedang menuju toko bangunan untuk membeli gergaji. “Baru terkumpul kemarin uangnya,” ujar salah seorang di antara mereka.

Aku jadi teringat.

Aku di posisi yang sama dengan mereka kira-kira seminggu yang lalu. Seminggu sebelumnya lagi, aku baru saja berhasil mengumpulkan uang untuk membeli gergaji. Kira-kira sebulan sebelumnya, aku baru saja menghasilkan uang pertamaku. Sebelumnya lagi, aku baru saja menyelesaikan kursus tentang bagaimana menghasilkan uang. Sebelumnya lagi, aku sedang …

Ah, barangkali aku memang tak perlu mengejar siapa-siapa.

Aku hanya perlu terus berproses, melampaui diriku yang kemarin. Aku hanya perlu fokus kepada gergaji yang sedang Continue reading Fokus Berproses

Kekasih Sempurna

Tahukah kamu apa yang istimewa dari seorang kekasih? 

Semakin tak nyata, ia semakin terasa sempurna.

Saat seorang kekasih masih berada di dalam bayangan dan angan-angan, apa yang kita lihat darinya hanyalah apa yang kita damba. Lengkung senyumnya adalah lengkung senyum favorit kita, suaranya terdengar merdu sesuai selera, dan tindak tanduknya adalah apa saja yang menyenangkan hati kita. 

Ketika bayangan tentang kekasih itu menjadi nyata, memiliki bentuk, apalagi bisa kita amati dalam jarak yang sangat dekat, tiba-tiba saja kita akan melihat sejuta kekurangannya. 

Tiba-tiba saja kita mendapat aneka alasan untuk meninggalkannya. 

Sebab ternyata, ia lebih suka tersenyum dengan caranya sendiri. Ternyata, kadang-kadang suaranya meninggi dan kata-kata dari mulutnya menyesakkan dada. Dan sikapnya, lebih Continue reading Kekasih Sempurna

Hati-hati dengan Hati

Ada yang senang mengetuk pintu hanya untuk menguji apakah pintu itu akan terbuka.

Ia tak benar-benar ingin bertamu, atau masuk ke dalamnya. Ia adalah orang yang tersenyum ke arahmu, lalu setelah kamu membalas senyumnya, ia berbalik ke arah teman-temannya sambil menepuk dada.

Atau, boleh jadi ia masuk, tetapi sekadar singgah sebentar. Bukan untuk tinggal lama-lama.

Ia tampak bahagia dengan setiap jamuan yang kamu sajikan, bersikap ramah dan sopan, tetapi suatu malam pergi begitu Continue reading Hati-hati dengan Hati

Kendali atas Diri

Kosongkan sebagian ruang dalam hatimu untuk diisi orang lain. Namun, jangan seluruhnya. Kamu perlu membuat seseorang merasa berarti, tetapi itu juga berarti memberinya kesempatan untuk membuatmu patah hati.

Berikan izin bagi orang lain untuk memberi saran atas pilihan hidupmu. Namun, pastikan kamu tetap memegang kendali atas diri. Benar bahwa manusia jauh lebih kuat ketika bersama, tetapi pada akhirnya setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan secara pribadi.

Berdoa dengan sungguh-sungguh. Bergaul dengan ciptaan-Nya dengan sebaik-baiknya. Tetapi, jangan pernah lupa untuk Continue reading Kendali atas Diri

Menikah Segera

“Ngapain sih kepingin buru-buru nikah?”

Seandainya kamu berencana menikah dalam waktu dekat dan batu pertanyaan itu dilempar kepadamu, tangkap dan simpan di dalam saku.

Suatu hari, si penanya akan menemukan jawabannya sendiri;

Ketika ia berjumpa seseorang dan tiba-tiba saja lupa cara bicara. Degup jantungnya, melampaui aneka frekuensi. Malam-malam terasa panjang karena rindu, dan di setiap penghujung senja batinnya selalu bertanya: mengapa matahari cepat sekali terbenam?

Ketika ia bertemu seseorang yang bersamanya, sunyi jadi bunyi paling merdu. Dengannya, ia bukan cuma bisa mencipta bahagia, tetapi juga menertawakan luka. Seseorang yang Continue reading Menikah Segera

Sekotak Kado Rahasia

Ada waktu kita jatuh cinta. Ketika tak cukup lagi rasa digema dalam kata. Ketika rembulan selalu tampak bulat sempurna. Ketika duka-duka bisa dilupa. Saat perih pedih luka bisa ditunda untuk sementara. Dan hidup adalah padu padan warna yang begitu bernyawa.

Ada waktu kita patah hati. Hidup serasa permen karet yang telah habis gulanya. Yang tersisa untuk dicecap adalah hambar atau pahit. Hambar atau pahit dan bukan manis. Kita begitu ingin membuangnya, tapi tak punya apa-apa lagi untuk dikunyah. Tak punya topeng untuk terlihat baik-baik saja.

Continue reading Sekotak Kado Rahasia

Akan Ada

Jika kini kamu belum juga menemukannya, teruslah berbaik sangka dan percaya. Bahwa nanti, bersama dengan kepastian dari-Nya, akan ada …

Ia yang hadirnya menggetarkan hatimu. Saat itu, barangkali akan ada banyak hal yang membingungkan. Kamu jadi pura-pura lugu dan bertanya, seperti inikah jatuh cinta? Ketika rasa menyentuh jiwa, bahkan sebelum suara merambat ke telinga. Ketika rindu mengisi dada, bahkan sebelum cahaya membelai mata.

Ia yang kamu izinkan untuk mengisi ruang di pikiranmu, menyelami dirimu, menyingkap luka-luka paling rahasia, lalu membalutnya. Kamu menyerah. Pasrah. Kadang-kadang ada perasaan tersandra, tetapi kamu tetap bahagia.

Ia yang membatalkan dendam yang dipendam begitu dalam. Hidup jadi terasa impas, terasa adil. Bahkan berlebih. Kamu merasa perlu memberi sumbangsih pada dunia. Kamu ingin Continue reading Akan Ada

Perempuan Pendiam & Laki-laki yang Tak Peka

Perjumpaan perempuan pendiam dengan laki-laki yang tak peka adalah bencana. Adalah erupsi gunung berapi. Adalah banjir bandang. Adalah angin puting beliung. Adalah tsunami. Adalah aku dan kamu.

Aku yang tak berbakat menerjemahkan keterdiaman. Aku yang terlalu lugu—merasa bahwa semua baik-baik saja. Aku yang punya keterampilan kurang memadai dalam mengerti apa yang ada di dalam hati.

Continue reading Perempuan Pendiam & Laki-laki yang Tak Peka

Kado yang Tak Boleh Dibuka

Sejak dulu sekali, patah hati telah menjadi sebuah pandemi. 

Begitu banyak manusia, barangkali termasuk kita, jatuh cinta kepada seseorang yang tak pernah bisa dimiliki. Dan seringkali, hal itu terjadi begitu saja. Di luar kendali, tanpa antisipasi sama sekali.

Entah karena terlalu lemah, atau merasa seseorang itu memang tak mungkin diperjuangkan, kita memilih untuk jatuh cinta diam-diam saja. Memerhatikannya dari jauh, mengamati dalam sunyi. 

Lalu dengan sok bijak, kita berkata dalam hati, “Beberapa hal memang lebih baik tak terucap. Biar tetap jadi rahasia. Nyala lilin yang dijaga dari tiupan angin.”

Sering kali kita berusaha tak peduli. Tetapi, bisa memastikan Continue reading Kado yang Tak Boleh Dibuka

Tentang Jodoh, untuk Perempuan

Pernikahan kami baru berjalan beberapa tahun. Kemampuan kami dalam membina rumah tangga, belum benar-benar teruji. Pelaksanaan tanggung jawabku sebagai suami dan ayah, masih kurang di sana-sini. Wawasanku soal hubungan asmara, terbatas pada pengalaman yang singkat plus sedikit buku yang sempat dibaca.

Tapi, kalau diminta memberi satu nasihat tentang jodoh oleh seorang perempuan, aku akan sampaikan ini:

Continue reading Tentang Jodoh, untuk Perempuan

Menunda Penolakan

Jika seseorang minta tolong, sebaiknya bantu sebisa kita. Seandainya sedang tidak memungkinkan untuk membantu, tolak sesegera mungkin. Beranikan diri untuk mengatakan ‘maaf, tidak bisa.’

Memberi harapan, padahal kita tahu persis tak mampu mewujudkan, adalah sebuah kejahatan.

Begitu pula dalam hal rasa. Jika seseorang mengungkapkan ketertarikan dan kita tak merasakan hal yang sama, sampaikan hal itu segera. Katakan ‘kamu terlalu baik’, ‘aku ingin sendiri dulu’, ‘aku ingin fokus melakukan A B C dan sebagainya’ atau Continue reading Menunda Penolakan

Keraguan

Suatu hari nanti, mungkin kamu akan menyesalinya: hal yang kamu lakukan, hal yang tak kamu lakukan.

Suatu hari nanti, mungkin kamu akan merindukannya: mereka yang kamu tinggalkan, mereka yang kamu lepaskan.

Tapi, masa depan ditakdirkan untuk jadi misteri. Kita hanya bisa melakukan hal terbaik yang bisa dilakukan hari ini, sambil berdoa semoga semuanya baik-baik saja.

Ketakutan untuk melangkah …

Keraguan untuk mengambil keputusan …

Adalah hal-hal yang justru akan menghancurkanmu bahkan sebelum masa depan datang.

Kekhawatiran akan masa depan yang tidak bahagia jelas merupakan sebuah kesalahan. 

Sebab jalan menuju bahagia tak pernah ada di peta. Kebahagiaan bukanlah satu titik lokasi yang bisa didatangi Continue reading Keraguan

Luka

Sebagai manusia biasa, kadang-kadang kamu terluka. Kamu tak tahu cara menyembuhkannya, tak tahu di mana bisa dapat resep untuk mengobatinya. Yang pertama-tama kamu tahu dan yakini, ruang sendiri akan sedikit menenangkanmu. Maka, kamu mencari sudut terjauh yang bisa kamu jangkau, lalu bersembunyi di sana. Menyepi dari keramaian.

Di sudut itu, tak ada yang bisa menemukanmu. Tak ada yang bisa mengajak dan diajak bicara. Tak ada yang terganggu oleh jerit-tangismu. Tak ada yang bisa menertawakan air matamu.

Continue reading Luka

Menemukan yang Lain

Kamu merasa telah menemukan orang yang tepat.

Ia memenuhi hampir semua kriteria. Hadirnya membuat hidupmu lebih berwarna. Dan tiba-tiba saja hari-harimu jadi penuh bunga.

Kamu pun mulai berani menyimpulkan, kamu jatuh cinta kepadanya.

Dan sebagaimana orang-orang yang jatuh cinta, kamu mulai mencari cara untuk bisa terus di dekatnya. Kamu mencari-cari peluang untuk bisa menjalani sisa hidup bersamanya. Kamu merekayasa pertemuan-pertemuan kecil yang seolah tak sengaja, membangun kesan bahwa takdir berpihak pada kebersamaan kamu dan dirinya.

Namun, semakin keras kamu berusaha, segalanya terasa semakin salah. Setelah jauh kamu berjalan, kamu mulai merasa tersesat. Jelas-jelas ia tak memperlakukanmu sebagaimana kamu bersikap terhadapnya.

Kamu dan dirinya terangkum dalam satu ruang dan waktu. Detikmu dan detiknya sama-sama berdetak, tetapi tidak serempak.

Namamu adalah kata yang tak pernah ia eja. Perhatianmu padanya adalah getar yang tak pernah ia rasa. Kamu menatapnya dengan nyala, ia memandangmu serupa bala.

Kamu ingin jatuh cinta secara diam-diam saja. Menjaga rasa tetap rahasia. Mencukupkan diri dengan tangan yang cuma Continue reading Menemukan yang Lain

Bahagia adalah Cara Hidup

Kamu sedang lelah berjuang. 

Kamu telah merangkak, berjalan, berlari, demi menyusuri jalan panjang yang dulu kamu yakini. 

Kamu juga sudah banyak berkorban: waktu, tenaga, pikiran, kesempatan-kesempatan kecil untuk rebahan.

Tetapi, hidup memang tak selalu berjalan sesuai harapan. Rupanya, semakin jauh jalan itu kamu tempuh, semakin tampak itu hanyalah jalan buntu. Apa-apa yang kamu harap ada di sana, apa-apa yang kamu kira akan membuatmu bahagia, ternyata cuma fatamorgana.

Lalu, kamu barangkali mulai berpikir untuk berhenti dan mencari jalan lain. 

Tidak apa-apa. Sungguh, tidak apa-apa. 

Bahkan jika kamu hendak berputar arah sekarang juga, lakukan saja.

Tak ada yang sia-sia. Barangkali, Allah ingin memberimu lebih banyak pengalaman. Yang sudah pasti berarti bagimu. Kini, ataupun nanti.

Kita cuma manusia lugu, sementara Allah Maha Tahu.

Lagi pula, bukankah bahagia adalah cara hidup? Bukan kondisi Continue reading Bahagia adalah Cara Hidup

Rumah

Hati adalah rumah.

Kita yang memegang kuncinya.

Kita barangkali tak bisa memastikan siapa yang akan datang mengetuk pintu, atau sekadar berdiri di depan pagar.

Namun, tentang siapa yang boleh masuk dan duduk di sofa ruang tamu, bukankah kendali ada di tangan kita?

Di antara mereka …

Ada yang hadir untuk sekadar bercakap.

Ada yang berharap bisa menginap.

Ada yang layak jadi penghuni tetap.

Karya-karya Nurun Ala yang sudah terbit tersedia di shopee.co.id/azharologia. Selamat mengoleksi …

Cinta Sejati

Segala hal yang berkaitan dengan cinta, atau lebih spesifik lagi hubungan asmara dua manusia, sering kita anggap magi: kekuatan gaib yang sulit dijelaskan. Manusia bisa disulap jadi cerdik, atau tolol sejadi-jadinya. Kendali sedih dan bahagia seolah tak lagi digenggam. Dari situ juga kemudian kita dapati konsep ‘belahan jiwa’ dan ‘cinta sejati’.

Seseorang yang hidup dengan belahan jiwanya, akan bahagia. Mereka jadi sepasang manusia yang mengalami cinta sejati dan habiskan waktu dengan canda tawa.

Kenyataannya, setelah dijalani, konsep-konsep itu adalah omong paling kosong. Hubungan romantis yang serbaindah rupanya tak hadir seajaib itu. Cinta sejati, barangkali hanyalah sebuah mitos.

Kenyataannya, hubungan harmonis adalah tentang sepasang manusia yang sering berdebat lalu bersepakat, sesekali Continue reading Cinta Sejati

Jebakan Narsisisme

Syarat utama bagi keberhasilan mencintai, kata Erich Fromm, adalah mengatasi narsisisme. Satu keyakinan bahwa yang penting di muka bumi ini hanyalah diri sendiri. Seolah Tuhan menciptakan manusia lain dan seisi semesta hanya untuk melayani kebutuhannya. Ini semacam egoisme, tetapi pada tahap yang lebih ekstrim.

Belajar menjadi pecinta yang baik artinya berusaha keluar dari jebakan narsisisme dan memandang segalanya secara objektif. Bahwa orang-orang di luar sana, termasuk orang yang sedang kita cintai juga punya kehidupan, masa lalu, perasaan, harapan, dan hal-hal yang tak disuka.

Ketika narsisisme hilang, keinginan untuk diperhatikan berubah menjadi kebiasaan memerhatikan. 

Hasrat untuk dimengerti kalah oleh upaya untuk mengerti keadaan dan perasaan orang lain. 

Dan orientasi menerima, digeser oleh obsesi untuk terus menerus memberi.

Ketika narsisisme hilang, kita bertransformasi dari ‘orang yang jatuh cinta’ menjadi ‘orang yang mencintai’. Dalam transformasi itulah terjadi lompatan kedewasaan.

Karya-karya Nurun Ala yang sudah terbit tersedia di shopee.co.id/azharologia. Selamat mengoleksi …

Waktu dan Kesabaran

Allah mencipta begitu banyak pasangan pertanyaan-jawaban, tapi tak selalu menurunkan keduanya di waktu yang sama.

Betapa banyak pertanyaan yang berputar di kepalaku ketika kecil, namun baru terjawab saat beranjak dewasa. Aku juga selalu percaya, di kolong langit ini, setiap orang selalu punya satu atau beberapa pertanyaan sulit dalam hidupnya, yang sekeras apa pun usahanya mencari jawaban, tidak jua bertemu. 

Sampai waktu berlalu dan tabir demi tabir terbuka, pertanyaan Continue reading Waktu dan Kesabaran

Jeda

“Untung saja dulu aku bla bla bla. Kalau tidak, bisa-bisa sekarang aku bla bla bla.”

Seberapa sering kalimat semacam itu terlontar dari mulut, atau sekadar terlintas di dalam pikiran kita? Kita mensyukuri sebuah kejadian di masa lalu. Padahal, dulu pada saat kejadian itu berlangsung, kita menangis sejadi-jadinya.

Kita marah.

Kita protes.

Kita kecewa.

Kita mencari kambing hitam untuk disalah-salahkan. Entah itu orang tua, teman, seseorang yang tak kita kenal, takdir, Tuhan, atau siapa saja. Rasanya, kejadian itu bukan hanya melukai, tetapi akan bikin masa depan kita makin sulit.

Waktu terus berjalan. Bumi masih berputar. Kita membaca banyak buku, bertemu banyak orang, mendengar banyak cerita, merasakan aneka pengalaman baru.

Luka yang tercipta oleh kejadian itu sudah sembuh, tetapi menyisakan bekas. Anehnya, melihat bekas itu, kita tak lagi merasa marah atau kecewa. Bahkan, alih-alih protes pada Tuhan dan menyalah-nyalahkan orang lain—sebagaimana yang kita lakukan dulu—kita justru berterima Continue reading Jeda

Tak Selalu Tentang Kamu

Jangan mudah marah atau tersinggung.

Mereka tak sedang membicarakanmu. Mereka sedang membicarakan seseorang yang lain di sana. Entah siapa, tapi yang pasti bukan kamu. Jadi, simpan umpatanmu, panjangkan lagi sumbu amarahmu. Perbanyak piknik dan sibukkanlah dirimu dengan berbuat sesuatu.

Jangan dulu besar hati, apalagi kepala.

Ia tak benar-benar peduli padamu. Tidakkah kamu melihat ada udang di balik batu ucapannya? Buka mata lebar-lebar, pandanglah lebih jauh dan dalam. Ia tak benar-benar Continue reading Tak Selalu Tentang Kamu

Tak Mau Berhenti

Saat kita jatuh cinta pada seseorang tetapi dia tidak merasakan hal yang sama, sebenarnya pikiran kita menganggap itu adalah hal yang wajar. 

Bukankah rasa memang tak bisa dipaksakan? Bukankah kita juga tidak bisa sembarangan menerima kehadiran orang lain dalam hidup kita?

Sayangnya, hati tak selalu sejalan dengan pikiran. Mereka seolah bekerja dengan mekanisme—atau kecepatan—yang berbeda.

Meski pikiran tahu bahwa rasa itu sudah jelas tak berbalas, Continue reading Tak Mau Berhenti

Baik-baik Saja

Pernahkah kamu berada di titik penderitaan, saat berbagai masalah seperti bola salju yang terus bergelinding memburumu? Rasanya ingin lari … sembunyi … tapi kamu sadar bahwa itu juga melelahkan. Saat itu, barangkali kamu berpikir hidupmu akan hancur selama-lamanya.

Namun, lihatlah, ternyata hari ini kamu masih ada dan baik-baik saja.

Memang begitulah hidup.

Kadang-kadang malam terasa panjang karena bingung dan cemas, tetapi ketika pagi datang, matahari terbit bersama aneka kesempatan.

Gelap mungkin menyelimutimu dengan ratusan pertanyaan, tetapi terang selalu hadir dengan ribuan jawaban.

Atau bisa saja senja membawa hidupmu ke ujung-ujung jalan buntu, tetapi fajar menawarkan pilihan-pilihan baru.

Hidup adalah perjalanan dari titik ke titik. Perpindahan dari fase ke fase. Dari berbagai proses itu, kita dapatkan pengalaman. Dan di dalam pengalaman selalu terkandung pelajaran yang membawa pencerahan.

Akan selalu ada jalan.

Akan selalu datang kesempatan.

Akan kamu temukan jawaban.

Selama kamu terus bergerak. Selagi kamu terus mencari. Jika Continue reading Baik-baik Saja

Taman Surga

Senyum yang kamu lempar kepada dunia, akan berbalik seperti bumerang. Mereka akan menghantam tubuhmu, menghancurkan dinding ego hingga porak poranda. Kamu belajar untuk tertawa dalam luka. Juga, hadapi sakit tanpa perasaan menderita.

Cinta yang kamu tebar kepada semesta, akan datang lagi kepadamu berlipat ganda. Mereka datang menyerang serupa rintik hujan. Membasuhmu dengan kesejukan. Sirna gerah, lepas dahaga. Kamu basah kuyup dalam bahagia.

Kasih yang kamu tanam di tiap jengkal bumi, akan tumbuh jadi pohon yang kokoh dan berbuah lebat. Kelak, di waktu yang barangkali tak kamu sadari, kamu akan menuainya. Mencecap manisnya. Setelah itu, biji-bijinya kamu semai lagi, hingga tumbuhlah mereka menjadi taman surga. Continue reading Taman Surga

Di Balik Luka

Saat jari kita teriris pisau, kita menjerit kaget. 

Buru-buru kita mencari kain, kapas, atau apa saja untuk menahan darah yang mengalir dari pembuluh darah yang terpotong. Rasanya, tentu saja perih. 

Namun, bersama rasa perih itu, kita seperti diingatkan kembali bahwa di dalam tubuh kita, ada darah. Sesuatu yang barangkali tak kita rasa, tak sering kita lihat, tetapi diam-diam menghidupi.

Saat terbaring sakit, tubuh kita lemas tak berdaya. 

Ingin melakukan ini itu tak bisa. Untuk sekadar berdiri saja tak bertenaga. Bahkan, makanan mahal tak lagi terasa lezatnya. Maka kita bukan cuma menderita, tetapi juga bosan setengah mati. 

Namun, dalam derita dan kebosanan itu, kita disadarkan Continue reading Di Balik Luka

Menyiksa Diri

Kamu barangkali pernah menjalin hubungan yang begitu lama dengan seseorang, entah itu pertemanan atau sesuatu yang spesial dengan lawan jenis. 

Suatu hari, kamu merasa hubungan kalian tidak lagi sehat. Alih-alih saling mendukung, satu sama lain justru saling menghambat. Alih-alih saling menguatkan, satu sama lain justru saling merusak. Alih-alih penuh cinta, justru hubungan kalian penuh amarah dan pertengkaran.

Kamu ingin mengakhiri hubungan itu.

Namun, setiap kamu mengingat-ingat waktu yang telah kalian habiskan bersama, masa-masa yang kalian lalui, dan betapa banyak kasih sayang yang telah kamu curahkan untuk hubungan itu, kamu urung mengakhirinya. Kamu merasa telah menginvestasikan banyak hal, dan tak ingin kehilangannya begitu saja. Meskipun kamu tahu persis, jika melanjutkannya, kalian hanya akan terus melukai satu sama lain.

Sadarlah …. 

Diakhiri atau tidak, apa-apa yang sudah kamu curahkan tak akan bisa kamu tarik kembali. Apa-apa yang sudah terjadi, tak bisa diapa-apakan lagi. 

Justru, yang bisa kamu tentukan adalah apa yang akan kamu lakukan hari ini. Yang bisa kamu rencanakan adalah apa-apa Continue reading Menyiksa Diri

Alasan

Ada masa ketika satu-satunya yang ingin kita lakukan adalah protes, seolah kehidupan berjalan dengan begitu tidak adil.

“Mengapa aku harus mengalami hal ini? Mengapa hidup begitu kejam padaku? Mengapa kejadian buruk terus saja menimpaku?”

Ada pula masa ketika kita mensyukuri kejadian-kejadian buruk yang terjadi di masa lalu. “Kalau saja aku tidak ditolak oleh perusahaan-perusahaan itu, mungkin aku tidak pernah berani membuka usaha dan menjalankan perusahaanku sendiri.” Atau, kalimat-kalimat lain semacamnya.

Sebagian tanya dalam hidup memang cuma bisa dijawab oleh Continue reading Alasan

Fondasi

Selama lima tahun pertama kehidupannya, kita tak bisa melihat tanaman bambu tumbuh secara signifikan. Bahkan setelah disiram dan diberi pupuk sebaik-baiknya, ia seperti enggan meninggi. Alih-alih menjadi batang yang kuat dan panjang, ia segitu-segitu saja.

Itulah yang tampak di permukaan. Orang yang ceroboh, tak sabaran, dan tak berpengalaman bisa saja merasa kesal dan buru-buru menebasnya. 

Padahal, di lima tahun pertama itulah sesungguhnya bambu tersebut sedang melakukan hal yang penting: menancapkan dan menjalarkan akar-akarnya ke dalam tanah. Sehingga di enam pekan berikutnya, secara mengejutkan, batangnya bisa menjulang tinggi puluhan meter ke udara dengan leluasa.

Tersebab akar-akar yang menopangnya dengan baik itu, batangnya yang tinggi dan besar tak tumbang ditarik gravitasi. Tersebab akar-akar yang menopangnya dengan baik itu, batangnya yang tinggi dan besar juga tak roboh diterpa Continue reading Fondasi

Bertanggung Jawab

Ada laki-laki yang jatuh cinta kepada seorang perempuan. Mereka sudah saling mengenal, dan setiap kali berjumpa, laki-laki itu selalu merasakan getaran. Kini, ia bukan hanya merasa senang saat—sengaja atau pura-pura tak sengaja—bertemu perempuan itu, ia bahkan membayangkan kehidupan jangka panjang bersamanya.

Tak mungkin lagi rasanya membohongi diri. Senyumnya selalu mengembang sempurna setiap kali membayangkan masa depan dengan Sang Puan. 

Sayangnya, ada sisi pengecut di dalam dirinya yang terus berbisik bahwa ‘Ini belum saatnya’, ‘Dia tak akan mau hidup bersama orang yang biasa-biasa saja sepertimu’, ‘Kamu masih Continue reading Bertanggung Jawab

Sedikit Lebih Merdu

Dunia ini semakin bising.

Setiap hari, berita-berita memuakkan terpampang di layar ponsel dan televisi, komentar-komentar bernada benci dan provokasi berseliweran di media sosial, dan orang-orang seperti terus berlomba dan menghalalkan segala cara untuk jadi viral dan terkenal.

Terkadang, aku membayangkan betapa sederhananya jadi gelembung keheningan yang mengapung-apung di atas samudra kegaduhan itu. Ringan, tanpa beban. Berpindah ke sana kemari tanpa intensi apalagi ambisi. Tak ada yang memperhatikan. Pun ketika gelembung pecah dan hilang, tak ada yang merindukan.

Tetapi, aku kembali tersadar bahwa berandai-andai saja tak Continue reading Sedikit Lebih Merdu

Sepatu Orang Lain

Saat kita bermimpi untuk berdiri di atas sepatu orang lain, ada orang-orang yang mendambakan dirinya berada di atas sepatu kita. Saat kita membenci mati-matian sepasang sepatu lusuh yang kita injak, bahkan ingin membuangnya jauh-jauh, ada orang-orang yang yakin betul bahwa mereka akan bahagia jika memilikinya.

Dunia adalah telaga mahaluas yang tak pernah hilangkan haus, Continue reading Sepatu Orang Lain

Tujuan Hidup

Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang punya tekad begitu kuat?

Hatinya bulat. Tanpa sudut, tanpa ragu. Hidupnya penuh iktikad.

Manakala mendamba sesuatu, ia akan habis-habisan memperjuangkannya. Tak mempan dicaci, tak acuh dimaki.

Jika ia ingin tidur telentang di bawah bintang, ia akan mengusir awan.

Jika ingin menangis di bawah hujan, ia bakal mengundang mendung.

Ia siap melakukan apa pun yang mungkin dan tak mungkin.

Hebatnya, ia melakukannya bukan tanpa perhitungan.

Saat ingin menggapai puncak, ia tahu selalu ada kemungkinan untuk tergelincir atau tersesat. Tetapi, ia tetap mendaki.

Saat akan mengambil setangkai mawar yang indah dan harum dari pohonnya, ia sadar mungkin saja jarinya tertusuk duri. Tetapi, ia tetap menjulurkan tangan dan memetik.

Ia mengingatkan kita bahwa para pemberani pun sebenarnya Continue reading Tujuan Hidup

Mereka yang Tak Peka

Jatuh cinta kepada seseorang yang tak peka itu lucu sekali. 

Kita memerhatikannya dari jauh dan dekat, mengamati gerak-geriknya, menggali berbagai informasi apa saja tentangnya, dan kadang-kadang menciptakan pertemuan-pertemuan kecil yang seolah tak sengaja. 

Tetapi, ia seperti tak mengerti. 

Ia seolah menganggap segalanya berlangsung apa adanya. 

Bahwa sikap kita padanya adalah sikap yang normal.

Bahwa cara kita menatapnya adalah tatapan yang biasa. 

Bahwa perjumpaan kita dengannya adalah kebetulan-kebetulan saja.

Sampai suatu hari, ia sadar bahwa kehadiran kita begitu berarti. 

Dengan gelagapan dan tergesa-gesa, ia akan mencari tahu apakah rasa itu masih ada. Apakah pintu hati kita masih bisa Continue reading Mereka yang Tak Peka

Kepecundangan yang Sesungguhnya

Hidup ini penuh dengan pilihan. Dan setiap pilihan mengandung risiko. Setiap langkah mengantarkan kita pada konsekuensi yang harus dihadapi.

Bahkan setelah kamu berjuang begitu keras, kamu bisa saja gagal.

Namun, kalau kamu berusaha menghindari kegagalan itu, kamu juga sedang menjauhkan diri dari keberhasilan.

Kamu gagal, kamu belajar. Kamu mencatat kesalahan yang tak Continue reading Kepecundangan yang Sesungguhnya

Bahagia Karena Berjuang

Setelah puluhan tahun menghirup napas di bumi, setelah puluhan kali mengelilingi matahari, aku berusaha untuk menerima bahwa kehidupan yang baik memang harus diperjuangkan dengan sekeras-kerasnya. Dengan fokus dan sungguh-sungguh. Sambil terus berdoa dan meminta kemudahan kepada Sang Pencipta. 

Yakin bahwa Ia tak ‘kan memberi beban yang tak sanggup kita tanggung. Yakin bahwa Ia tak ‘kan menguji kita dengan batu masalah yang tak sanggup kita pecahkan.

Bergantung kepada manusia cuma akan bikin kecewa, sebab Continue reading Bahagia Karena Berjuang

Perempuan yang Menunggu

Seorang perempuan menghampiri seorang laki-laki yang sudah dikenalnya cukup lama. Ia bercerita bahwa ada seorang laki-laki yang ia rasa begitu perhatian padanya. Lalu, dengan jantung berdebar kencang ia bertanya, “Apakah itu bisa disebut cinta?”

Si laki-laki tak bisa menjawab dengan pasti. Dengan nada ragu, ia berkata kepada perempuan itu, “Kurasa, kamu cukup dewasa untuk membedakan ombak dengan gelombang. Atau, badai dengan angin.”

Setelah mendengar jawaban itu, si perempuan beranjak pergi. Namun, sebelum ia berjalan begitu jauh, ia berbalik dan berkata lirih, “Aku akan menunggu.”

“Menunggu apa?” tanya si laki-laki heran.

“Angin menjadi badai. Gelombang menjadi ombak. Sekarang, Continue reading Perempuan yang Menunggu

Bahagia dalam Kesibukan

Kita barangkali sering bergumam, “Kalau urusan ini selesai, aku akan lebih tenang. Kalau masalah ini terpecahkan, aku akan lebih bahagia.”

Padahal, kita tahu urusan tak akan pernah habis dan masalah akan selalu ada.

Jika kita terus menunda-nunda kebahagian, kita akan mati dalam kesedihan secara menyedihkan.

Jadi, mari kita selesaikan urusan-urusan dengan hati senang. Continue reading Bahagia dalam Kesibukan

Alasan untuk Bersyukur

Bersyukur itu mudah. Kamu tak harus lebih dulu mendapatkan apa-apa yang kamu usahakan. Kamu hanya perlu memikirkan kembali apa-apa yang kamu terlahir dengannya.

Ketika kamu mulai bersyukur dengan sungguh-sungguh, kamu akan mendengarkan detak jantungmu. Betapa iramanya menentramkan hati.

Kamu juga mulai merasakan darah mengalir di sepanjang nadimu. Betapa segala aktivitasmu bergantung pada tiap tetesnya.

Lalu, barangkali kamu akan meraba gigi geligimu. Betapa Continue reading Alasan untuk Bersyukur

Memang Lebih Baik

Ada bagian dari diri kita yang selalu ingin dianggap istimewa. Ingin dilihat, didengar, dan dihargai.

Jika sedang berkumpul dengan beberapa teman, lalu ada seseorang yang menceritakan pengalaman jalan-jalannya ke sebuah tempat yang indah, diam-diam kita mengingat-ingat pengalaman pribadi kita yang tak kalah menyenangkan dan bersiap-siap menceritakannya. Apabila ada yang mengatakan bahwa ia mengenal Pejabat A, Selebriti B, atau Penyanyi C, kita akan langsung mencari daftar nama dalam ingatan yang juga bisa dibanggakan.

Bahkan, seandainya ada seorang teman yang bilang bahwa di satu waktu ia pernah mengalami sebuah kecelakaan parah, kita berusaha mengingat pengalaman kecelakaan yang jauh lebih mengenaskan. Jika tidak ada, kita akan menceritakan pengalaman kecelakaan saudara kita, atau salah seorang tetangga kita, atau tetap pengalaman sendiri, tetapi ditambahi aneka bumbu di sana-sini.

Kita tak pernah mau kalah.

Kita dikuasai oleh ego, dan sering kali itu membuat kita Continue reading Memang Lebih Baik

Hal Paling Naif di Dunia

Apa hal paling naif di dunia? 

Barangkali, merasa lega melihat seseorang yang kita damba hidup bahagia dalam pelukan orang lain. Kita memaafkannya. Meski, boleh jadi ia pernah meninggalkan luka yang menganga. 

Lagi pula, apa bedanya? Membenci, atau tetap mencintainya, adalah dua pekerjaan yang sama-sama membuatnya selalu ada dalam pikiran kita.

Jadi, kita biarkan saja kesedihan mengalir jauh bersama waktu. Dan jika rasa tak juga berlalu, mari kita cukupkan diri kita Continue reading Hal Paling Naif di Dunia

Kualitas Diri yang Sejati

Dunia penuh dengan ilusi. Dan kadang-kadang kita tertipu pula olehnya.

Misalnya, saat melihat iklan sebuah produk kosmetik. Kesan yang diciptakan oleh produsen produk dan pembuat iklan selalu begitu: model ini cantik, bercahaya, dan bebas jerawat karena menggunakan produk kami. Padahal, bukan karena produk itu mereka menjadi cantik.

Pembuat iklan memilih mereka yang memang sudah cantik untuk dijadikan model.

Kita juga sering menaruh rasa kagum yang berlebihan pada beberapa universitas. Kita mendengar lulusan Kampus A jadi presiden, lulusan Kampus B jadi pengusaha besar, lulusan Kampus C jadi selebriti terkenal. Seolah-olah, karena berkuliah di universitas bergengsi itu, seseorang jadi sukses. Barangkali memang ada sedikit kaitan. Tetapi, jelas bukan kausalitas sempurna.

Pada dasarnya, universitas bergengsi memang menyeleksi orang-orang yang suka berjuang, bermimpi besar, dan memiliki tingkatan intelektualitas tertentu.

Jangan mudah silau oleh apa-apa yang tampak memukau. Sering kali, mereka tak seperti kelihatannya.

Saatnya mengubur kekaguman-kekaguman yang Continue reading Kualitas Diri yang Sejati

Selalu Ada yang Tak Suka

Untuk sejenak, mari kita ingat-ingat. 

Saat bertemu dengan teman-teman kita, apakah kita sungguh-sungguh memerhatikan penampilan mereka: gaya rambut, pakaian yang mereka kenakan, dan apakah mereka terlihat lebih gemuk dari biasanya? Kemungkinan besar, tidak. Jelas kita lebih memerhatikan penampilan kita sendiri. 

Kalaupun sempat memerhatikan mereka, masihkah kita mengingat detail-detail itu sekarang?

Kita tidak sesungguh-sungguh itu memerhatikan penampilan orang lain. Pun sebaliknya. 

Menghabiskan waktu dengan pikiran yang mengganggu tentang bagaimana orang menilai penampilan kita, adalah kekhawatiran yang tak perlu. 

Sekarang, ingat-ingat lagi.

Di antara deretan selebriti, politisi, teman sekolah, rekan kerja, anggota keluarga besar, tetangga, atau lingkaran kenalan apa saja, apakah kita menyukai mereka semua? Bukankah di antara mereka ada yang tampak sombong, ada yang menyebalkan, ada Continue reading Selalu Ada yang Tak Suka

Telanjur Mengetuk

Pernahkah mengetuk pintu hati seseorang, lalu setelah terbuka kamu ragu apakah ruang itu tempat yang nyaman untuk tinggal?

Kamu bingung harus melakukan apa, karena segalanya terasa sudah ‘telanjur’. Kamu membayangkan akhir yang mengerikan bila terus melanjutkan. Dan merasa setiap hari baru yang kamu jalani hanyalah perpanjangan waktu penyiksaan. Akhirnya, satu-satunya hal yang kamu lakukan adalah berlari dan sembunyi.

Kamu tahu pelarian itu salah. Nuranimu pun tak henti-hentinya berbisik, “Kamu sungguh tidak bertanggung jawab!” Namun, kamu mengabaikan bisikan itu dan terus berlari …

Padahal, bertanggung jawab atas apa yang telah dimulai tak Continue reading Telanjur Mengetuk

Relevansi

Ini era globalisasi. Ini era internet. Disrupsi terjadi di segala sisi.

Dunia teknologi tak henti-hentinya memberi kita kejutan. Apa yang dulu dianggap mustahil, kini menjadi bagian dari keseharian. Apa yang dulu dirasa tak terjangkau, kini ada di dalam genggaman.

Kita berdecak kagum. Memandang dunia dengan bola mata yang menyala. Terperangah.

“Aku ingin mencobanya!” Kita pernah mengatakannya suatu hari, saat sebuah produk baru diluncurkan.

“Masa sih kamu belum mencobanya? Seru, tahu!” Tanya kita pada seorang teman yang belum punya akun Facebook atau Continue reading Relevansi

Toksik

Di antara begitu banyak orang di sekitarmu, kadang-kadang ada saja yang menguarkan aura negatif.

Setiap kamu akan mengambil keputusan besar yang berisiko, dia mencegahmu dengan dalih, “Aku kasih tahu ini karena aku mencemaskanmu.” 

Padahal, sebenarnya ia sedang bilang, “Aku penakut dan pengecut, dan aku akan menularkan kepengecutan ini padamu.”

Ia seolah peduli padamu. Padahal, ia hanya peduli pada dirinya Continue reading Toksik

Membanding-bandingkan

Gore Vidal, seorang penulis Amerika, pernah berkata di dalam suatu wawancara, “Setiap kali seorang teman sukses, sebagian kecil diriku mati.”

Kita, barangkali adalah Gore Vidal yang memilih untuk tidak mengekspresikan perasaan kita. Perasaan yang halus dan jarang diakui, tetapi ada. Ia muncul malu-malu saat seorang teman mengalami peningkatan taraf hidup, membeli barang yang sudah lama kita impikan, atau berbahagia atas sebuah pencapaian.

Perasaan—yang tidak kita akui—itu, seringkali lahir dari rahim pembandingan. Mengapa korbannya lebih sering teman, atau orang di lingkaran kita sendiri? Sebab kita hanya membanding-bandingkan diri dengan mereka yang mirip dengan kita dalam hal usia, lingkungan, karier, dan pendidikan.

Kita masa bodoh dengan pencapaian orang-orang di luar jangkauan. Atau, kita peduli, tetapi dengan terampil menghibur diri: “Wajarlah, dia kan …”, “Enggak kaget sih, orang dia …”, dan sebagainya. Terhadap mereka, tak ada upaya membanding-bandingkan, tak ada ‘sebagian kecil diri yang mati.’

Dan bukankah tanpa pembandingan, hidup jauh lebih tenang?

Maka, sesegera mungkin, kita perlu berhenti membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Apalagi jika menggunakan Continue reading Membanding-bandingkan

Sewajarnya

Pernah ada sepasang manusia yang saling jatuh cinta. Setiap jumpa memicu getar di dada. Senyum sapa menumbuhkan rasa. Dan hidup adalah taman penuh mekar bunga.

Jadilah mereka dua pribadi yang saling menitipkan diri. Menyepakati mimpi-mimpi. Bergenggaman tangan sambil berikrar, “Ini cinta sampai mati.”

Sepasang kehidupan yang saling mencukupkan. 

Namun, cinta tanpa ikatan adalah cinta yang bermusim. Dan Continue reading Sewajarnya

Tak Berbalas

Terlalu banyak hal dalam hidup ini yang tak bisa kita kendalikan. Termasuk, bagaimana perasaan orang lain terhadap kita.

Saat kita berusaha mengungkapkan rasa kepada seseorang yang kita damba, selalu ada kemungkinan rasa itu tak berbalas. Atau, dengan kaca mata optimisme, kita bisa anggap bahwa upaya kita belum cukup keras. Maka kita terus berusaha lagi, sambil tetap menunggu.

Sah sah saja. Tapi, jangan lupa untuk curiga:

“Mungkin hanya belum, mungkin memang tidak.” 

Apa pun hasilnya, jika sudah lakukan upaya terbaik, kita Continue reading Tak Berbalas

Pasar Kepribadian

Sosial media adalah pasar kepribadian, tempat orang-orang menjajakan diri dan berharap keberuntungan.

Jumlah ‘like’ adalah mata uang sosial. Berdasar ukuran itu seseorang dinilai: apakah dia seorang pemenang, atau cuma pecundang.

Jumlah komentar adalah tanda kepedulian. Berdasar ukuran itu orang-orang menyimpulkan: apakah dia seseorang yang disayang, atau manusia kesepian yang menyebalkan.

Jumlah pengikut adalah alat mengukur reputasi: apakah dia penting dan layak ditemani, atau sampah masyarakat yang Continue reading Pasar Kepribadian

UNDO

Salah satu manfaat yang sangat terasa dari kehadiran komputer adalah betapa mudahnya membatalkan keputusan.

Saat kita mengetik kalimat yang salah, lalu klik ‘undo’, naskah pun kembali seperti semula. Kesalahan yang terjadi bisa lebih mudah diperbaiki. Jika kita tak suka akan keberadaan sebuah foto yang di dalamnya kita terlihat gemuk, kita tinggal menekan ‘delete’. Lalu, seandainya kita tak sengaja menghapus sebuah dokumen penting, kita hanya perlu membuka ‘recycle bin’, klik ‘restore’. Maka, simsalabim, dokumen terselamatkan.

Sayangnya, hal demikian hampir tak berlaku dalam kehidupan.

Dalam hidup, ketika kita melakukan kesalahan—misalnya melukai hati seseorang, tak ada tombol ‘undo’ yang bisa ditekan. Mau tidak mau, kita harus meminta maaf. Itu pun, selain tidak mudah dilakukan, tentu tak memperbaiki segalanya.

Kita juga tak bisa begitu saja menghindari tanggung jawab, hanya karena hal tersebut tak menyenangkan buat kita. Sebab, beberapa hal dalam hidup memang tak selalu berjalan sesuai keinginan.

Dan yang paling disayangkan, ketika seseorang yang dicintai pergi meninggalkan dunia, sesedih apa pun kita, sederas apa Continue reading UNDO

Diam-diam Terluka

Saat kamu jatuh cinta diam-diam kepada seseorang, kamu akan selalu mencari dinding untuk bersembunyi. Tempat kamu leluasa memandangnya tetapi ia tak bisa melihatmu.

Ada debar yang bikin candu.
Sederhana, namun sensasional.

Kamu betah berdiri di sana. Memanen buah pembenaran dari pohon kepengecutan. Mengais sisa harapan di atas tumpukan ketidakpastian.

Segalanya terasa cukup menyenangkan sampai suatu hari, dari celah kecil di dinding tempat kamu mengintainya diam-diam, kamu melihat pipinya memerah oleh sapaan seseorang. Tawanya pecah oleh candaan seseorang. Dan matanya menyala saat menatap mata seseorang.

Seseorang yang tentu bukan kamu, sebab kamu luput dari Continue reading Diam-diam Terluka

Bukan Cuma Rekah Bunga

Ada masa ketika jatuh cinta kepada seseorang membuatmu sedikit gila.

Namanya jadi kata yang selalu kamu ketik.
Hatinya adalah pintu yang ingin kamu ketuk.

Ia jadi sosok menggemaskan,
yang selalu kamu cemaskan.

Pertemuan dengannya selalu menegangkan,
sekaligus menyenangkan.

Kamu mulai tak peduli melangkah ke mana,
hanya ingin bersama.

Kamu sungguh ingin selalu bersamanya.
Jika tidak dalam temu, setidaknya dalam rindu.

Seandainya momen itu benar-benar tiba, tetaplah sadar dan Continue reading Bukan Cuma Rekah Bunga

Saat Hatimu Patah

Saat hatimu patah, tak ada yang lebih kamu butuhkan selain ruang untuk berbenah. Ada yang harus dilepaskan. Banyak yang perlu dilupakan. Agar hati bisa ditata lagi.

Kelegaan tak pernah bisa dipaksakan. 

Sebab itu, kamu tak punya pilihan selain menikmatinya:

Kesendirian yang asing …

Tubuh yang terbaring …

Luka yang perlahan mengering ….

Tenang saja. Nantinya, tak cuma akan ada kesempatan kedua. Akan datang kepadamu kesempatan ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. 

Selama kamu masih bernyawa, hidup selalu penuh dengan Continue reading Saat Hatimu Patah

Aku Masih di Sini

Aku masih di sini dan begini: berlari di atas lintasan yang sama, dengan irama langkah yang itu-itu saja.

Aku masih di sini dan begini: tersenyum hanya karena mendengar musik yang kusuka sejak bertahun-tahun lalu, bersiul dengan nada yang sama.

Dan aku masih di sini dan begini: menatap rindang pohon sambil menggenggam jemarimu, hingga lupa ternyata waktu terus berlalu.

Satu dua daun gugur ….

Aku bangkit dan berkata kepadamu, kita harus bersiap Continue reading Aku Masih di Sini

Nyali untuk Nyala

Frase ‘mencintai diam-diam’ memang terdengar romantis. Seolah-olah, itu merupakan satu hal yang terhormat untuk dijalani. Terlebih lagi, ‘mencintai diam-diam’ bukan cuma terdengar indah, tetapi juga mudah. 

Maka kita ingin menjadi angin, yang bisa membisikkan rindu kepada yang kita damba kapan pun kita ingin. 

Atau menjadi cicak di dinding kamarnya, sehingga bisa terus mengaguminya dari dekat dan lekat. 

Tetapi, pikirkan sekali lagi. Apa enaknya jadi pencinta yang Continue reading Nyali untuk Nyala

Derita Pemendam Rasa

Ada hal-hal yang sulit diucap, tetapi mudah dijelaskan dengan tatap. 

Sialnya, jangankan berhadapan, berusaha mendekat saja degup jantung seketika tak menentu.

Ada masa ketika rindu dipaksa takluk oleh waktu. Jadilah mereka dua manusia lugu yang saling menunggu. Saling menerka, merapal doa berharap jumpa. 

Tetapi, ketika jumpa jadi niscaya, langkah jadi ragu. Lidah malah kelu. Kadang ada kata, tetapi terbata-bata.

Demikianlah derita pemendam rasa. 

Mereka yang mendamba dalam diam.
Mereka yang memilih untuk bungkam.
Dari malam ke malam.

Semoga, nanti ketika nyali telah menyala, perahu harapan Continue reading Derita Pemendam Rasa

Terkembang Jadi Kata

Kamu selalu ingin mengajaknya ke alam terbuka. Menyalakan api unggun. Menyanyikan lagu-lagu. Menertawakan masa lalu.

Kamu terus menantinya dengan lugu.

Kamu ingin membangunkannya di subuh yang pekat. Menyemangatinya di pagi yang sibuk. Menyapanya di siang yang panjang. Menggenggam tangannya di petang yang lengang.

Kamu ingin tubuhnya jadi peristirahatan terakhirmu di malam-malam syahdu.

Detik yang kamu nikmati …
Kenangan yang tak pernah mati …
Segala yang hidup di dalam mimpi.

Tidakkah kamu ingin membuka mata?
Continue reading Terkembang Jadi Kata

Pengorbanan

Kamu bisa saja meminta seseorang untuk mencintaimu. Boleh jadi ia mengangguk dan bersedia. Namun, kamu harus sadar bahwa yang sebenarnya kamu dapatkan adalah belas kasihan.

Kalau kamu ingin mendapatkan kasih sayang yang tulus, atau cinta yang menyala-nyala dari seseorang, kamu harus berhasil meyakinkan dia bahwa bersamamu, hidupnya akan lebih bahagia.

Dan itu berarti, hidupmu harus penuh dengan pembuktian, bukan janji-janji. Itu berarti kamu tak boleh berhenti bertumbuh, menjadi semakin baik dari hari ke hari. Itu berarti Continue reading Pengorbanan

Cinta Pertama

Kamu akan selalu mengenangnya: masa-masa indah ketika jerawat pubertas pecah dan hidup tak tentu arah. Perjumpaan-perjumpaan yang seolah tak sengaja, yang selalu sukses bikin pipi memerah dan salah tingkah. Kamu selalu berusaha mengikutinya. Bila tidak dengan langkahmu, pasti dengan pikirmu.

Diam-diam, kamu takut kehilangan dirinya.

Dan kamu tak ‘kan mampu melupakannya: hasrat ingin menyapa yang bisa tiba-tiba lenyap diterpa badai ragu, atau malu. Ketakberdayaan yang melahirkan kegagapan, ketergesa-gesaan, dan kekonyolan-kekonyolan lain yang sama sekali tak membanggakan.

Orang-orang menertawakanmu yang selalu lupa bicara ketika Continue reading Cinta Pertama

Pernikahan adalah Keajaiban

Jika kamu bertanya apa hal paling ajaib yang berlangsung di muka bumi, barangkali salah satunya adalah pernikahan.

Saat masih lajang, kamu selalu berusaha untuk bisa hidup mandiri. Sebisa mungkin, tak ingin merepotkan orang lain. Mencoba utuh dalam kesendirian.

Setelah menikah, kamu dan pasanganmu akan menyetengahkan diri, lalu membangun satu keutuhan baru. Sehingga, ketika sedang sendiri, kamu merasa tak utuh lagi. Kamu merasa sedang ‘setengah’.

Memang konsep yang aneh. Tapi, dunia ini memang penuh Continue reading Pernikahan adalah Keajaiban

Sedang Jatuh Cinta

Sejak kapan ia hadir? Bagaimana ia datang? Dari mana ia berasal?

Semua pertanyaan itu jadi terasa tak penting.

Yang nyata terjadi adalah:

Ia menyalakan kembali sesuatu yang telah lama padam di dalam dirimu. Ia mencairkan lagi rasa yang lama membeku. Hari-hari yang biasanya berjalan lambat, kini berlalu secepat kilat.

Kamu mengalir kembali. Bergerak penuh energi.

Bahkan sesekali, kamu terbang tinggi. Melihat segalanya dari Continue reading Sedang Jatuh Cinta

Perasaan Jatuh Cinta

Kalau kamu mau jujur pada dirimu, perasaan jatuh cinta selalu terang benderang. Ia selalu jelas dan tegas. 

Ada getaran. Tatapan teduh yang menenangkan. Lalu gambar-gambar yang terus terbayang.

Ada gerak. Semangat yang berlipat. Lalu hal-hal konyol yang kadang di luar nalar.

Perasaan jatuh cinta terlalu nyata. Seringkali tak terencana. Tetapi, ia akan begitu-begitu saja jika tak diikuti oleh pekerjaan mencintai.

Jika kamu ragu apakah kamu jatuh cinta kepada seseorang, Continue reading Perasaan Jatuh Cinta

Untuk Perempuan di Balik Senyuman

Kita bukan sepasang kekasih yang mengisi seluruh waktu bersama dengan saling memuji dan mengagumi. Kita juga bukan sepasang suami istri yang selalu bisa habiskan waktu dengan menyenangkan karena punya hobi yang sama. 

Kadang kita saling membenci. 

Aku membenci sikap diam dan perhatianmu yang berlebihan pada hal-hal kecil. Dan kamu, barangkali begitu mengutuki sifat emosionalku yang seringkali meledak-ledak tak terkendali, atau, sikap dinginku yang selalu sukses menularkan kebekuan di antara kita.

Barangkali aku memang bukan kekasih yang baik. Sebagaimana hidup kita yang tak selalu berjalan baik. 

Continue reading Untuk Perempuan di Balik Senyuman

Berdua Saja

Dari bola matamu
Aku melihat kesungguhan
Kedalaman perasaan yang tak terjelaskan
Dan aku takluk di tiap detik kau menatapku

Dari bola matamu
Aku melihat cinta
Badai kedamaian yang melumatku dalam sekejap
Seketika tak berarti lagi semua kenangan
Hingga aku hilang dalam pelukan

Dari kejauhan
Aku melihat debu rindu
Membatasi pandangan kita
Hingga tak lagi saling menatap
: samar wajahmu, samar wajahku

Tapi detak jantungmu mengikatku
Dan aku tenggelam dalam setiap ritmik
Dalam setiap detik

Continue reading Berdua Saja

Kemauan yang Tak Mau Sendirian

Pada suatu hari, kita adalah sepasang manusia pemalu. 

Maksudku, dua manusia pemalu—memangnya siapa aku memasang-masangkan aku dan kamu? 

Lalu kita memutuskan untuk mengambil langkah-langkah kecil untuk saling mendekat. Di sana memang ada keyakinan yang besar, tapi ketakutan tak begitu saja luput. Ia terus ada mencipta gelisah, sementara tangan kita saling menggenggam dan mencoba untuk melawan semuanya: kita pasti bisa melewati ini.

Dulu, perasaanku adalah sebuah rahasia kecil, dan ketidakpedulianku atas setiap hal yang berkaitan dengan dirimu adalah sandiwara yang menyakitkan. 

Continue reading Kemauan yang Tak Mau Sendirian

Lupakanlah Cinta

Aku bukan saudagar kaya, bukan pula keturunan bangsawan. Kamu bukan model atau Putri Indonesia. 

Kita hanyalah dua manusia biasa yang sudah terlalu lelah saling membingkai gambar dalam sunyi. 

Sebab di sana ada ketertekanan, keragu-raguan, dan ketakutan yang berdiri di atas ketakberdayaan. Sebab cinta tak cukup hanya dirasakan apalagi disembunyikan—dahsyatnya  kekuatan cinta hanya akan merengkuh kita dalam keindahannya bila ia terkatakan dan terbuktikan.

Maka, lupakanlah cinta!

Lupakan saja cinta yang kita tak punya kemampuan untuk mengatakan dan membuktikannya. Lupakanlah cinta jika keindahannya hanya fatamorgana di padang pasir. Lupakanlah Continue reading Lupakanlah Cinta

Kerelaan

Melepaskanmu untuk pergi, barangkali seperti meluruhkan jarak yang selama ini kita kutuki. 

Hadirnya kerelaan, tak selalu jadi penanda bahwa rindu itu kini telah sirna. Ada semacam metamorfosa, yang membawa kita pada sebuah kesadaran bahwa ‘Amour Vincit Omnia’ tak selamanya mesti kita maknai sebagai kemenangan atas kedekatan, interaksi, atau bahkan kepemilikan—atas nama apa pun.

Continue reading Kerelaan

Melupakanmu

Melupakanmu.

Meninggalkan setiap kenangan yang diam-diam selalu kita banggakan. Memori indah yang kuputar ulang di kepalaku tiap pagi dengan hati-hati—jangan sampai ada detik yang terlewat untuk kuingat.

Membakar habis semua surat yang pernah kutulis: yang tak pernah sampai, yang sampai namun kau lewatkan tanpa sempat kau baca, yang kau baca seluruh atau sebagian. Atau yang telah kau lupakan—surat-surat yang telah kau bakar lebih dulu tanpa kutahu.

Melupakanmu.

Menarik kembali semua kata rindu yang pernah terlempar dalam diam dalam bisu. Dalam yakin maupun ragu.

Continue reading Melupakanmu

Mengalah pada Sunyi

Mengalahlah pada sunyi di dadamu. Kau tak akan mampu mengalahkannya. Ia telah dan masih di sana, dan akan selalu di sana. Dalam kesendirianmu, dalam ketaksendirianmu.

Dan menyerahlah pada waktu yang bisa kapan saja membeku. Kau tak ‘kan pernah sekalipun mampu mencairkannya semaumu, apalagi mengusir rasa rindu. Sebab rindu adalah adalah residu, dari larutan cinta dan jarak yang tak pengertian.

Continue reading Mengalah pada Sunyi

Menikmati Ketakberdayaan

Kita terpisah jauh, dan hanya bisa diam menikmati ketakberdayaan. 

Sambil dengan kebodohan masing-masing, kita menanti sayap yang tak jua tumbuh. Lalu kita akan berkirim surat, tanpa pernah tahu nasibnya—sampai, nyasar, atau hilang. Kita tak pernah peduli. 

Karena sebenarnya kita hanya ingin menulis surat untuk diri kita sendiri. Kita hanya ingin merasakan gelombang kerinduan mahadahsyat yang kita pancarkan sendiri. Itu sudah cukup. Atau bahkan, bagi kita itu lebih dari cukup.

Separuh diriku pergi dan aku merintih di sini. Adakah di sana kau mendengarnya?

Continue reading Menikmati Ketakberdayaan

Jauh (3)

Tiada hal yang lebih manjur untuk mengobati heningnya perpisahan selain merindu dan bersabar. Tersebab kita bukan manusia mahahebat yang bisa hidup sendiri. Tersebab perpisahan selalu menyisakan rasa yang asing dalam batin kita: rasa yang menggugu dan tak biasa. 

Meski keterpisahan tidak melulu soal air mata. 

Meski keterpisahan tidak melulu soal kenelangsaan. 

Continue reading Jauh (3)

Jauh (2)

Haruskah kutulis sebuah sajak sebagai penanda dramatis bahwa tak lama lagi cerita tentang keterpisahan ini akan segera bermula? Haruskah ada puisi, atau elegi yang mendayu-dayu sebagai prasasti yang kelak akan kita kenang dan tangisi: bahwa dulu kau dan aku pernah mengalami sebuah tragedi perpisahan di sini?

Aku tak terlalu peduli apa kau juga merasakannnya: rasa haru yang mendera, rasa cemas yang tak biasa, juga rasa takut kehilangan yang bukan sembarangan.

Continue reading Jauh (2)

Jauh

Kamu pasti takut sendiri. 

Aku juga. 

Kemarin, waktu kau bilang kau akan pergi jauh, aku makin takut. Ada semacam perih dalam hati yang membuat mataku dipaksa berair. Pipiku becek. Sayang, air mataku, sederas apa pun ia mengalir, tampaknya tak punya daya menahanmu untuk tetap di sini. 

Continue reading Jauh

Salah

Kali ini, biarkan aku bicara langsung pada jiwamu: tanpa sekat, tanpa tedeng, tanpa border. Untuk menanyakan apa-apa yang khawatir telah kusalahartikan. Tentang siapa merindukan siapa. Tentang siapa mengharapkan apa. Adakah kata ‘saling’ terkandung? Atau adakah hukum aksi-reaksi berlaku di sana?

Kau pernah mendengar cerita tentang orang-orang yang dibuali perasaannya sendiri?

Continue reading Salah

Di Batas Sunyi

Aku sedari dulu selalu merasa cukup memandangmu dari sudut ini. Dari balik dinding hatiku yang kadang runtuh diterpa sapa, atau sekadar senyum. Menghayati sesosok bidadari dengan cara yang paling sulit dimengerti.

Kala kau menatap, itulah kala ku harus terpejam—aku tak sanggup. Kala kau bersuara adalah kala ku harus menutup telinga, atau menjauh, atau bersembunyi di balik dinding paling kedap suara yang bisa kutemui. 

Continue reading Di Batas Sunyi

Mengapa Belum Juga?

Pantai;

Ia telah mengucap janji setianya pada laut. Bahwa ia akan selalu menemani. Kapan pun. Dalam keadaan apa pun. Sedahsyat apa pun embusan angin—atau bahkan badai—yang mengguncang, yang mengurai tenang jadi gelombang-gelombang yang sulit dikekang, ia akan selalu di sana. Menjadi sahabat paling sejati yang selalu mengerti. Dalam pasang maupun surut. Dalam jernih maupun keruh. Katanya pada laut: tak peduli kamu seberapa pekat, aku akan tetap dekat.

Panas;

Ia telah mengaku jatuh hati pada api. Mengagumi segala pesonanya, dan berikrar dalam hati, ia akan selalu menjadi ruh yang bersemayam dalam raganya. Menjadi rasa paling dikenal. Karena bersama api, ia tahu arus cintanya diberi kanal. Dalam momen destruksi sekalipun, ia selalu bahagia. Dan selalu mengucap harap dalam doa: semoga semuanya abadi.

Dingin;

Continue reading Mengapa Belum Juga?

Kadang

Kadang kita tak butuh jawaban. Tak butuh penjelasan. Hanya ingin bercerita. Hanya ingin didengar. Hanya ingin bercengkrama. Hanya ingin bercanda.

Kadang kita menipu diri sendiri. Memutar balik. Alasan menjadi akibat. Akibat jadi alasan. Hanya ingin dekat. Dan resah bila jauh. Dan rindu. Dan kurang. Dan hampa.

Continue reading Kadang

Jarak, Jeda, dan Waktu

Berhenti di sana. Jangan lagi kamu berjalan meski pelan-pelan. Aku takut ketika kamu jatuh, tanganku belum siap untuk menangkapmu. Jadi, tunggu dulu.

Tunggu. Sampai mulutku tidak lagi gagu. Sampai bicaraku lancar tanpa harus diganggu oleh jantung yang dengan cepat  berdebar. Aku tidak akan mengatakan kata-kata yang diucapkan kebanyakan orang. Pasaran. Bualan. 

Continue reading Jarak, Jeda, dan Waktu

Tuhan Pasti Bertanggung Jawab

Katanya, hidup itu pilihan. Setiap harinya kita disodori aneka tawaran yang boleh diambil, tidak pun silakan. Setiap harinya kita dituntut untuk mengambil keputusan. Dan tahukah kamu? Setiap harinya, di antara semua pilihan aktivitas yang disediakan dalam kehidupan ini, aku memilih untuk merindukamu. Boleh-boleh saja, kan?

Memang kita belum lama saling mengenal. Tapi sah-sah saja, kan?

Kalau memikirkanmu adalah sebuah kegiatan yang komersial, aku pasti sudah jadi miliarder. Lalu akan kubayar orang-orang jenius untuk membuat mesin waktu, berapa pun mereka meminta bayaran. Berjumpa lagi denganmu tentu lebih mahal dari apa pun. Ah, aku berlebihan.

Tuhan pasti bertanggung jawab. 

Menciptakan perpisahan, berarti siap menanggung risiko menerima rentetan doa-doa tentang pertemuan yang antri untuk dikabulkan. Tuhan lebih tahu itu. Sudah pasti.

Izinkan aku kembali ke masa itu, 
akan kulempar jangkar waktu. 

Continue reading Tuhan Pasti Bertanggung Jawab

Lupa Bicara

Kamu ingin tahu bagaimana rasanya lupa cara bicara? Jadilah aku, lalu temui dirimu. Esok, lusa, atau kapan pun kamu bersedia. 

Kamu akan merasakan getar-getar itu: gempa bumi pribadi yang membuat jiwamu luluh tanpa daya.

Ja(t)uh (2013)

Bagaimana Caraku Menjelaskannya?

Bagaimana caraku menjelaskannya?

Aku telah bertemu banyak perempuan. Di antara mereka, ada yang membuat jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya bahkan di kala jumpa pertama. Di antara mereka, ada yang membuatku tersenyum hanya karena mendengar cara mereka tertawa dan bercerita. Di antara mereka, ada yang membuatku salah tingkah cuma dengan menatapku sambil menyunggingkan senyum. Tapi, kamu lain.

Bagaimana caraku menjelaskannya? 

Aku rela menghabiskan waktu seharian hanya untuk mengenang senyummu yang renyah. Bahkan ketika senyum itu bukan ditujukan kepadaku. Misal, sebenarnya kamu sedang tersenyum kepada seorang pelayan kantin yang mengantarkan es jeruk, minuman kesukaanmu. Atau, tersenyum karena teman di sampingmu melempar lelucon yang barangkali cukup menggelitik. Kamu memang tampak lugu, tetapi punya selera humor yang baik.

Bagaimana caraku menjelaskannya?

Continue reading Bagaimana Caraku Menjelaskannya?

Kunci

Dulu sekali, aku kerap bilang: aku pelupa akut. Tapi tentangmu, aku pengingat yang baik—entah bagaimana caranya. 

Waktu yang angkuh selalu saja berusaha menggerogoti setiap memori yang kusimpan di kepalaku, dengan atau tanpa izin. Tapi, ingatan tentangmu pengecualian. Gambar-gambarmu adalah pantangan bagi mereka—benda langka yang haram untuk dijamah barang secuil.

Continue reading Kunci

Diam

Dalam diam, tak selalu ada rintih yang dibungkam. Tak melulu ada dendam yang diredam.

Dalam ranah sunyi yang disebut diam, detik-detik waktu cuma milik jiwamu. Sendiri dan tak terbagi. Tempat berjuta kearifan tumbuh merdeka tanpa puaka.

Continue reading Diam

Dua Pemalu

Tiada yang lebih beku dari perjumpaan dua manusia pemalu. 

Hadirnya dua katup bibir, tak menjamin ada cuap di sana. Maka merekalah para ahli diam—untuk selanjutnya menjadi para ahli tebak. Karena tak ada yang bisa dilakukan untuk sebuah kebisuan kolektif selain menebak dan menebak. Sebab itu di sanalah kerap terjadi sebuah tragedi memilukan yang biasa kita sebut ‘tertipu oleh apa yang direka sendiri.’

Continue reading Dua Pemalu

Hujan atau Cinta

Barangkali memang sudah semestinya kita berterima kasih kepada hujan. Rintik-rintik kenangan yang telah menahan kita untuk tetap di sini, bertahan untuk mendengarkan cerita satu sama lain. Kamu bercerita, aku bercerita—dan entah sudah berapa dusta yang aku cipta. 

Hujan menggenang lubang-lubang jalan. Burung-burung berteduh.

Hatiku mengaduh.

Bagaimana rasanya terjatuh, terluka, tapi harus terus berpura-pura?

Continue reading Hujan atau Cinta

Kejujuran

Izinkan aku mengenalmu, untuk kesekian kalinya. Aku ingin mendengar nada bicara dan suaramu ketika mengenalkan diri: siapa namamu, dari mana kau berasal, apa yang kau suka dan yang tidak. Aku ingin merasakan kembali indahnya dunia ketika waktu seketika berhenti, dan semesta seolah menghentikan semua aktivitas yang ditakdirkan pada mereka hanya untuk mendengarkanmu bicara.

Bagaimana sebenarnya kejujuran bekerja dalam cinta? Ketika kita memutuskan untuk saling menjauh justru ketika raga ini mendamba kedekatan. Ketika rindu, seberapa pun pekatnya, tetap saja tak tersampaikan. Ya, sejak kali pertama aku mengenalmu, aku percaya bahwa kejujuran tak pernah benar-benar berlaku dalam cinta. Kadang kita menjadi hamba bagi sebuah kepura-puraan—menipu diri dengan rekaan-rekaan yang kita ciptakan sendiri. 

Tak berdarah bukan berarti tiada luka, sebagaimana menangis tak selamanya harus berair mata. 

Continue reading Kejujuran

Seperti Hujan

Sore ini hujan turun lagi. Bukan hujan deras, tetapi tidak juga bisa dibilang gerimis. Yang pasti, cukup untuk menahanku meringkuk sendiri di dalam ruang mungil ini, menatap kosong ke luar jendela yang tirainya sengaja kubiarkan kubuka. 

Hujan turun perlahan, sesekali meliuk serentak ditabrak angin. Di tiap-tiap rintiknya, aku melihat wajahmu. Sebagian dari mereka jatuh menabrak genting, menimbulkan bunyi yang juga terdengar seperti bisikanmu. Aku masih ingat bagaimana suara itu terdengar, ketika dulu kau bilang, “Aku sepertinya tak bisa menunggu.”

Kupikir-pikir, kamu itu memang seperti hujan, yang turun ketika ingin turun. Dan pergi jika sudah waktunya pergi. Hujan bisa datang dengan atau tanpa tanda-tanda, dengan atau tanpa aba-aba. 

Continue reading Seperti Hujan

Menulis & Menerbitkan Buku Sendiri

Ingin jadi penulis, tapi bingung harus mulai dari mana? Sudah mulai menulis, tapi karya tak selesai-selesai juga? Karya sudah selesai dan kini sedang mencari cara menerbitkan dan memasarkannya?

Atau … sekadar ingin mendengar cerita bagaimana menulis menjadi profesi penuh waktu saya selama 8 tahun terakhir?

Mudah-mudahan, Kelas Menulis & Self-Publishing bisa membantu. Saya mulai menulis di blog sejak 2010, lalu di tahun 2013 buku pertama saya terbit. Hingga kini, telah terbit 14 judul buku.

 

Di Kelas Menulis & Self-Publishing, selama 2,5 jam (09.00 -12.00), saya akan bercerita bagaimana proses kreatif saya dalam menulis & langkah-langkah melakukan self-publishing. Hal utama yang akan dibahas adalah:

Continue reading Menulis & Menerbitkan Buku Sendiri

Sepasang Keberanian

Ini tentang sepasang manusia yang saling jatuh cinta. 

Bahkan sejak pandangan pertama, masing-masing merasakan getaran yang sulit dijelaskan. Lalu, seiring berjalannya waktu, mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Mereka bisa mengobrol lama, saling bertukar cerita dan berbagi tawa. Tetapi, masing-masing tak punya jaminan hubungan itu akan bertahan lama.

Secara rutin mereka bertemu, berhadapan, tetapi tak pernah saling mendekat.

Maka, suatu hari, si perempuan sengaja mundur untuk menguji apakah lelaki itu akan melangkah maju.

Continue reading Sepasang Keberanian