Bertanggung Jawab

Ada laki-laki yang jatuh cinta kepada seorang perempuan. Mereka sudah saling mengenal, dan setiap kali berjumpa, laki-laki itu selalu merasakan getaran. Kini, ia bukan hanya merasa senang saat—sengaja atau pura-pura tak sengaja—bertemu perempuan itu, ia bahkan membayangkan kehidupan jangka panjang bersamanya.

Tak mungkin lagi rasanya membohongi diri. Senyumnya selalu mengembang sempurna setiap kali membayangkan masa depan dengan Sang Puan. 

Sayangnya, ada sisi pengecut di dalam dirinya yang terus berbisik bahwa ‘Ini belum saatnya’, ‘Dia tak akan mau hidup bersama orang yang biasa-biasa saja sepertimu’, ‘Kamu masih terlalu muda’, dan ‘Memangnya berapa sih saldo di rekeningmu?’.

Bisikan itu terus saja terngiang di kepalanya. Dan alih-alih melakukan berbagai aktivitas untuk mematahkan anggapan-anggapan itu, Sang laki-laki justru pasrah, merasa kehilangan harapan dan akhirnya membiarkan dirinya dikendalikan oleh keadaan. Hingga pada satu titik, keluarlah kalimat pamungkas bernada sok bijak itu dari mulutnya, “Biar waktu yang menjawab.”

Waktu berlalu. 

Dan benar saja, perlahan tapi pasti, Sang Waktu membawakan jawaban yang telah lama ditunggu. Seorang kurir mengantar undangan pernikahan, tertulis di sana nama Sang Perempuan bersanding dengan nama seorang laki-laki yang juga ia kenal. Tak lain, adalah juga seorang teman. 

Terakhir kali ia bertemu dengannya, Sang Teman curhat bertapa ia sedang jatuh-bangun merintis sebuah usaha, dan kondisi ekonominya sedang tidak baik-baik saja.

Sang Teman, laki-laki yang akhirnya mendapatkan hati perempuan yang ia damba, adalah seseorang yang biasa-biasa saja, muda, dan memiliki saldo di rekening yang tak seberapa. 

Barangkali benar, waktu akan menjawab. Tetapi, ia tak ‘kan pernah mau bertanggung jawab.

Karya-karya Nurun Ala yang sudah terbit tersedia di shopee.co.id/azharologia. Selamat mengoleksi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *