Bahagia Karena Berjuang

Setelah puluhan tahun menghirup napas di bumi, setelah puluhan kali mengelilingi matahari, aku berusaha untuk menerima bahwa kehidupan yang baik memang harus diperjuangkan dengan sekeras-kerasnya. Dengan fokus dan sungguh-sungguh. Sambil terus berdoa dan meminta kemudahan kepada Sang Pencipta. 

Yakin bahwa Ia tak ‘kan memberi beban yang tak sanggup kita tanggung. Yakin bahwa Ia tak ‘kan menguji kita dengan batu masalah yang tak sanggup kita pecahkan.

Bergantung kepada manusia cuma akan bikin kecewa, sebab tiap orang punya urusan masing-masing yang lebih diprioritaskan—halo, memangnya kamu siapa?!

Mengasihani diri sendiri sambil berharap uluran tangan orang lain, itu jauh lebih menyedihkan. Belum tentu ada yang benar-benar peduli. Yang sudah pasti, hilang harga diri.

Lagi pula, Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan, “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.”

Jadi, kalau ada yang bilang, ‘Percaya sama aku’, ‘Biar aku yang urus’, ‘Aku enggak bakal ninggalin kamu’, ‘Mana mungkin aku tega membiarkanmu berjuang sendiri?’, ‘Aku akan berjuang sekuat tenaga demi kebaikanmu’, jangan terlalu percaya. Jangan terlalu diambil hati. 

Bilang, “Makasih.” Lalu lupakan.

Allah sudah memberi kita berbagai perangkat untuk berjuang, untuk hidup baik di dunia dan akhirat. Daripada mengandalkan orang lain, kita optimalkan saja anugerah Allah itu.

Bahwa ternyata pada akhirnya mimpi kita tak terwujud, cita-cita tak tergapai, setidaknya kita sudah puas berjuang. Dan seharusnya, hal itu sudah cukup membahagiakan.

Karya-karya Nurun Ala yang sudah terbit tersedia di shopee.co.id/azharologia. Selamat mengoleksi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *